Jumat, 06 Februari 2026
Dulu, sewaktu di kampus, pernah dapat nasihat dari murabbiyah. "Amanah itu menjagamu.", dan nasihat ini masih terus membekas sampai sekarang.
Dulu amanahnya adalah sebagai aktivis dakwah kampus, sebagai kakak pembimbing, sebagai ketua atau wakil dalam organisasi. Kita menjadi hati-hati dalam berprilaku, menjaga ketaatan, menahan maksiat, dsb.
Sekarang, amanah itu berganti-menjadi seorang ibu. Tapi kehati-hatian itu tetap sama. Rasa "menjaga" nya tetap sama. Lingkaran ukhuwah nya pun tetap sama. Bersyukur sekali masih berada dalam barisan ini.
Wahai ibu, lelah ya?
Mengurus anak, suami, dan kebutuhan keluarga. Tak apa.. sama lelahnya seperti dulu. Kita sudah pernah merasakan lelah-lelahnya, dan Allah bantu kita bisa melewatinya. Lihatlah bu, anak-anak bertumbuh dalam cinta dan kasih sayang ibunya. :)
Wahai ibu, rindu ya menghabiskan waktu bersama Qur'an dalam ketenangan dan kesendirian?
Tak apa.. sekarang walaupun sedikit yang mampu kita baca, akan membawa ketenangan dalam menghadapi rumah dan anak-anak. :)
Wahai ibu, ingin sekali ya rasanya punya waktu lama untuk diri sendiri?
Ternyata Bu, waktu kita memang hanya ada di saat-saat sunyi, di saat-saat anak tertidur, di waktu menenangkan yang-setiap doa di ijabah oleh Allah, sepertiga malam.
Wahai ibu, benar sekali amanah itu menjagamu. Kita berusaha bersyukur dan bersabar ya, Bu. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam menjalankan amanah ini. :)
Dariku,
seorang ibu yang masih terus belajar.
Rabu, 22 Oktober 2025
Hujan - Muhasabah
Hari-hari kemarin terasa kering
Cuaca panas membuat kita tak nyaman
Banyak orang yang menginginkan hujan,
termasuk aku.
Karena hujan, kita bersyukur,
pun karena panas, kita juga bersyukur.
Dua-dua nya hanya bergantian saja.
Bedanya, rasa syukur kita.
Kedatangan hujan adalah sebagai muhasabah, untuk hati yang kering, yang lupa untuk apa ia hidup, untuk siapa segalanya ia perbuat.
Seperti halnya dzikir, sebagai hujan untuk lisan yang kering, membaca Qur'an sebagai hujan untuk hati yang tandus, dan beramal shalih sebagai hujan untuk diri yang lalai.
Allahumma Shayyiban Naafi'aan..
Semoga Allah menurunkan hujan yang bermanfaat.
Dariku,
yang suka hujan.
Rabu, 30 Juli 2025
Teguran
Baru memberanikan diri untuk sharing hal ini.
Pernah gak kalian merasa ditegur banget sama Allah?
2 bulan lalu, Qia yang umurnya belum ada 1 tahun tiba-tiba menolak DBF atau nen langsung. Deg. Kaget banget, shock berat. Kenapa ya? Memang AC dirumah kami sedang rusak. Cuaca panas. Cibitung gitu loh. Jadi, di kamar kami dipasang 2 kipas nomor 3.. "Qia, kamu knp nak?" Pikiran umi sedih, khawatir, campur aduk. Apa ASI umi bermasalah? atau Qia lagi tumbuh gigi sampai menolak nen? Atau Qia sebel bgtt, gerah, jadi ngambek?
Akhirnya, umi coba pumping karena PD sampai bengkak dan sakit. Dicoba kasih Qia pakai gelas. Jam 04.00 subuh. Qia minum glek glek glek. Ya Allah nak.. kamu haus.. tapi knp gak mau nen langsung? Umi seperti kehilangan separuh jiwa. Seharian Qia masih gak mau nen, pakai gelas pun gak selalu mau. Kenapa ya? Jadilah umi konsultasi sana sini lewat WA. Dapat saran umi harus periksa. :( khawatir ASI nya yg bermasalah.
Umi cuma bisa nangis aja. Kalau umi datang nawarin nen, pasti Qia langsung balik badan. Potek bgt hati umi huhu. Tapi, disisi lain, Qia rewel, nangis-nangis, yang biasanya bikin langsung tenang ya nen uminya. Tapi, gak bisa. Kebayang kan jadi Qia gmn? Blm bisa ngomong, mungkin bingung juga. :(
Singkat cerita, 2 malam Qia bobok sambil gendong, dan 2 malam juga uminya begadang. Umi mencoba meng-nol-kan diri. Mencoba menerima segala ketetapan-Nya. Gak boleh sedih berlarut-larut. Minta ampun sama Allah, minta maaf berkali-kali sama Qia, juga minta maaf sama Abi. Merenung dan introspeksi diri. Mungkin ini teguran dari Allah?
Besoknya, karena AC gak bisa langsung dibenerin, harus dibawa sama teknisi, jadi Umi, Qia, dan kk Nai mau menginap di rumah uti. Dengan kondisi yg lelah bgt, sambil gendong Qia. Alat pumping juga udah siap, kami masuk ke dalam mobil kung.
Di tengah perjalanan umi coba kasih Qia nen lagi, dan tanpa nolak-nolak Qia langsung mau. 😠Ya Allah. banjir pipi ummi. Di rumah uti, Qia dan Umi di urut, beberapa kali masih nolak nen. Tapi, lama-lama udah mau lagi sampai kita balik ke rumah Cibitung. dan Umi gak usah periksa. Alhamdulillah Ya Allah.
Hari itu, hari dimana Qia udh mau nen lagi, umi merenung. Memang saat AC mati itu, kondisi mood umi jelek bgt. Sering kesel dengan tingkah para bocil. Qia bentar-bntar minta nen pas umi lagi masak, atau nyuci piring. dan Umi pernah bilang gini, "Qia kenapa dikit2 mimik sih?" dengan nada kesel.
Ya Allah, ternyata ini teguran dari Allah. Sejak kejadian itu, umi selalu berusaha menyambut baik setiap tingkah laku bocil, jangan sampai sedikit pun ada rasa kesel. Belajar lagi mengontrol emosi dalam setiap keadaan. Gak boleh banyak ngeluh, harus selalu bersyukur. Sangat berterima kasih sama Allah atas pelajaran ini. Semoga si Umi bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, baik sebagai istri dan juga ibu.
Semoga ada pelajaran yang bisa diambil buat yang baca tulisan ini. ♡
Copyright ©
Moonlight
| Powered by
Blogger
Design by
Flythemes
| Blogger Theme by
NewBloggerThemes.com
