"Pandai menerima takdir adalah salah satu kunci agar hati kita lapang..." petikan taujih murabbiyah pada halaqah kami pekan lalu.
Seringkali yang membuat kita marah, kecewa atau tidak senang dengan suatu hal adalah karena kita belum bisa menerima takdir-itu, walaupun itu suatu hal yang sederhana.
Lalu, aku perlahan menyadari bahwa "penerimaan" itulah yang menjadi cermin keimanan kita. Karena memang dgn hanya "menerima" kita bisa bermudah-mudah dalam perjalanan.
Berkali-kali aku gagal dalam mengelola hal ini, maka timbul rasa kecewa, kesel, jengkel, dan hal-hal tersebut membuat hatiku gak nyaman. Bahkan sampai merasa, aku bukan istri yang baik, aku bukan ibu yang baik.
Pada akhirnya, aku menemukan cara ini.
Pertama, ketika datang pikiran negatif (kecewa/kesel/sedih), aku beristighfar diiringi proses penerimaan yang baik. "Ya Allah, ini adalah takdir-Mu, ini adalah bagian dari perjalanan hidup. Pasti ada hikmah dari setiap hal yang Engkau kehendaki."
Kedua, setelah penerimaan itu, aku meminta maaf kepada orang yang berdampak ketika aku kecewa/kesel/sedih, misalnya kepada anak atau suami. Contohnya, "Maafin umi ya, umi salah udh ngomong kenceng, harusnya umi bisa lebih pelan-pelan. Kamu sedih ya nak? Maafin umi ya sayang.." Entah kenapa hatiku merasa lebih tenang..
Ketiga, setelah menerima, dan meminta maaf, yang ketiga adalah kuatkan kesabaran dengan doa. Selepas sholat, diwaktu-waktu hening, diwaktu-waktu yang hanya dirimu dan diri-Nya. Memohon ampun dan berdoalah.
Cara ini memang benar-benar harus diperjuangkan- dengan hati yang tulus sbg seorang hamba- agar Allah senantiasa menjaga kita dari tipu daya syaitan.
Sekian.. Semoga ada pelajaran yang bisa diambil buat yang baca tulisan ini ya.
dariku,
seorang istri dan ibu yg masih terus belajar. :)

0 komentar :
Posting Komentar