Sabtu, 01 Mei 2021
Blog ini sudah berdiri sejak tahun 2013, berarti 8 tahun sudah usianya, dan tentu berisi postingan yang beragam.Tulisan-tulisannya sangat dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan. Semakin terbaru, berarti semakin bisa mengolah kata demi kata dengan baik dan bijak. Rasanya sih begitu. Pun konten yang dituliskan, sesuai dengan apa yang sedang dipikirkan. Dan semakin terbaru, semakin terlihat banyak pikiran. Lagi-lagi, rasanya sih begitu.
Entah kenapa hari ini saya rindu sekali dengan blog ini, yang sudah berbulan-bulan lamanya hiatus-seperti sudah tidak bernafas lagi. Biasalah. Padahal, tinggal hanya meluangkan waktu aja. Tapi, tidak bisa dipungkiri, sosial media lebih menarik. Buka instagram, liat story orang, liat konten dakwah, liat berita, liat yang lucu-lucu, memang lebih seru. Buka facebook, cuma untuk baca tulisan-tulisannya bang Tere Liye, terus tutup lagi. Buka Whatsapp, wahhh, gak usah dijelasin.
Saat ini, teknologi semakin canggih, semakin banyak platform yang "mengajak orang untuk berekspresi." Rasanya sih bukan berekspresi, tapi lebih ke---ingin dilihat orang. Bukan hanya di dunia maya, di dunia nyata pun begitu. Eh, ini bukan ngadi-ngadi ya, tapi fakta di lapangan. Coba tanya aja diri sendiri. Konteks "ingin di lihat orang" ini tergantung lagi. Tergantung niat, ada yang niatnya mau ngajak orang berbuat baik, ada yang niatnya mau pamer, ada yang nitnya mau pamer kuadrat. Biasalah.
Bagi para orang tua-yang peduli dengan anaknya, kondisi demografi dan sosial saat ini sangat menjadi masalah, dan harus diatasi dengan tindakan preventif. Banyak orang tua yang banting tulang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta tapi mengedepankan akhlak dan akhirat, daripada di sekolah negeri yang sebagian besar di dominasi oleh "krisis akhlak" dan minim ilmu akhirat. Atau ada yang menyekolahkan anaknya di sekolah negeri, tapi menambah kelas mengaji. Orang tua seperti ini tentu paham bahwa ilmu agama sangat penting untuk "menjaga" anak-anaknya kelak.
Lingkungan sangat mempengaruhi karakter dan tumbuh kembang anak, apalagi usia 6-15 tahun, menurut saya. Disitulah para orang tua-idealnya, mengokohkan pondasi tauhid (tauhid ini sudah harus ditanamkan dari usia 0 bulan atau dalam janin), ilmu Al-Qur'an, dan warning-warning penting yang akan dijumpai anak-anaknya saat dia sudah baligh, dan sudah mulai "terbuka" dengan kehidupan "dunia" yang sebegini-nya ini. Tentu tidak mudah, dan butuh effort besar. Tapi, disitulah letak perjuangannya.
Murid saya ada yang usia 6 tahun sudah bisa baca Al-Qur'an dengan baik, makharijul huruf yang fasih, dan sudah banyak wawasan tentang syari'at kehidupan sehari-hari. Saya tanya ke sang ibu apa rahasianya, ternyata hanya "ketekunan" dalam membimbing, disamping selalu meminta pertolongan pada Allah. Saya juga teringat kata beliau, "Anak-anak ini kan mengikuti orang tuanya, yang dilihat pertama orang tuanya, jadi kalau kita menyuruh anak kita untuk belajar Al-Qur'an misalnya, kita sebagai orang tua juga harus begitu. Keluarga menjadi tempat utama dlm membentuk karakter anak."
Saya yang ilmunya masih cetek ini jadi sedikit bertambah ketika ngobrol sama orang tua murid. Intinya, para orang tua itu resah jika anaknya salah pergaulan, salah lingkungan, salah memilih teman. Sedangkan kondisi sosial saat ini tidak bisa kita stop, maksudnya; kita gak bisa mencegah atau memberhentikan sesuatu yang sdh terbentuk secara global, sebut saja; dunia Tik Tok, Youtube, dsb. Ditambah lagi kondisi pandemi yang mengharuskan anak untuk memakai gadget setiap hari. Sungguh sangat berbahaya jika tidak ada yang mendampingi.
Membahas kondisi sosial memang gak ada habisnya. Padahal postingan kali ini, rencananya mau nulis yang ringan-ringan aja, eh malah berat kayak beban hidup kamu. hehe, bercanda. Memasuki bulan Mei dan sepuluh hari terakhir Ramadhan, semoga semakin semangat ngejar target ibadahnya, dan semakin kenceng doa-doanya.
Salam,
- dari yang nulis.
Sabtu, 11 April 2020
Hanya Singgah saja, In syaa Allah
Hai, hari ini dunia tak seperti biasanya ya.
Berbeda 270 derajat.
Sebagian besar orang belajar dan bekerja dari rumah.
Meeting dari rumah. All of things.
Aku rasa, bumi berbahagia.
Ia terbebas dari polusi,
terbebas dari kemunafikan jalanan,
terbebas dari beban berat manusia.
ya walau tidak se-gamblang itu.
Aku pribadi, banyak bahagianya.
Bisa bersama keluarga.
Menemukan kembali harta yang paling berharga.
Walau sebenarnya, banyak waktu rebahan juga.
Setidaknya, kita mampu mensyukuri keadaan ini.
Kembali menemukan jati diri,
Banyak melakukan hobi,
dan hal-hal lain yang kita sukai, dan Allah ridhoi.
Disisi lain, ini adalah ujian ekonomi.
Bagi mereka yang mendapat uang per-hari,
jika tak bekerja hari ini, maka tak makanlah sehari,
Allah menguji siapapun yang Dia kehendaki.
Maka, tauhid adalah solusi terbaik dari semuanya.
Jika kalian bisa merasakan, yakin itu bisa membuat lega
Lega karena bersama Allah, semua akan baik-baik saja.
Fainna ma'al 'usriyusraa.
Walau tidak mudah,
yakinlah keadaan ini hanya singgah,
wahai kawanku, tetap berbahagialah. :)
Berbeda 270 derajat.
Sebagian besar orang belajar dan bekerja dari rumah.
Meeting dari rumah. All of things.
Aku rasa, bumi berbahagia.
Ia terbebas dari polusi,
terbebas dari kemunafikan jalanan,
terbebas dari beban berat manusia.
ya walau tidak se-gamblang itu.
Aku pribadi, banyak bahagianya.
Bisa bersama keluarga.
Menemukan kembali harta yang paling berharga.
Walau sebenarnya, banyak waktu rebahan juga.
Setidaknya, kita mampu mensyukuri keadaan ini.
Kembali menemukan jati diri,
Banyak melakukan hobi,
dan hal-hal lain yang kita sukai, dan Allah ridhoi.
Disisi lain, ini adalah ujian ekonomi.
Bagi mereka yang mendapat uang per-hari,
jika tak bekerja hari ini, maka tak makanlah sehari,
Allah menguji siapapun yang Dia kehendaki.
Maka, tauhid adalah solusi terbaik dari semuanya.
Jika kalian bisa merasakan, yakin itu bisa membuat lega
Lega karena bersama Allah, semua akan baik-baik saja.
Fainna ma'al 'usriyusraa.
Walau tidak mudah,
yakinlah keadaan ini hanya singgah,
wahai kawanku, tetap berbahagialah. :)
Minggu, 23 Februari 2020
Tentang Keinginan
Di tengah malamnya kota dan hiruk pikuk jalan raya. Aku seringkali menatap tajam pada langit, pohon-pohon dipinggiran, dan lampu-lampu kendaraan. Karena saat ini, senja menjadi penghujung aktivitasku diluar rumah. Dan malam, adalah sahabat perenunganku sepanjang perjalanan pulang.
Kadang aku berpikir, energiku banyak aku keluarkan untuk orang lain, dan aku tak punya waktu lapang untuk diriku sendiri. Hari-hari terasa begitu cepat, sedangkan mimpi yang amat ingin diwujudkan semakin terkikis oleh waktu dan kesibukan. Bukannya tak diluangkan, tapi tuntutan lain memaksa untuk menjadi bagian pertama yang dipikirkan.
Kadang hatiku merespon setiap perenungan itu, "Mungkin mimpimu terlalu duniawi, dan kamu hanya ingin pengakuan orang lain terhadap karyamu. Benahi dulu niatmu. Barangkali karena salahnya niatmu jalan itu terlihat sulit dan Allah tak ridha." Sambil menatap langit seringkali istighfar mengiringi. Niat itu harus diluruskan.
Saat ini, jika ingin melakukan sesuatu, bahkan hendak berniat, selalu bertanya lagi pada hati, apakah Allah ridha atau tidak, apakah tujuannya duniawi atau tidak, apakah bermanfaat untuk orang lain atau tidak. Jikalau ruhiy sedang tidak baik, maka pertanyaan-pertanyaan itu terlewat begitu saja, lupa bahwa Allah diatas segalanya. Kemudian, istighfar lagi.
Ah, setiap kita mampu memaksimalkan potensi diri, tapi jangan lupa tujuannya adalah untuk Allah dan kebermanfaatan. Tak apa jika dirimu menyukai sastra kemudian membuat novel yang berpesankan Al-Quran dan Sunnah.. biarkan saja itu menjadi caramu berdakwah dan Allah yang menilai. :)
Bismillah.. perbaiki niat, do something!
Saat ini, jika ingin melakukan sesuatu, bahkan hendak berniat, selalu bertanya lagi pada hati, apakah Allah ridha atau tidak, apakah tujuannya duniawi atau tidak, apakah bermanfaat untuk orang lain atau tidak. Jikalau ruhiy sedang tidak baik, maka pertanyaan-pertanyaan itu terlewat begitu saja, lupa bahwa Allah diatas segalanya. Kemudian, istighfar lagi.
Ah, setiap kita mampu memaksimalkan potensi diri, tapi jangan lupa tujuannya adalah untuk Allah dan kebermanfaatan. Tak apa jika dirimu menyukai sastra kemudian membuat novel yang berpesankan Al-Quran dan Sunnah.. biarkan saja itu menjadi caramu berdakwah dan Allah yang menilai. :)
Bismillah.. perbaiki niat, do something!
Minggu, 05 Januari 2020
Turning Point
Jika berbicara soal waktu, maka saat ini rasanya semua bergerak begitu cepat.
Dinamika kehidupan semakin terasa sesak.
Tanggung jawab bertambah, namun tak ada yang berubah
Semestinya, tanggung jawab menjadikan kita waspada, bukan merana.
Ingatkah saat semua "kesesakkan" ini berawal?
Aku, kamu, kita, menjatuhkan saja langkah kaki pada jalur kebaikan
Membersamai di segala rintangan, menyemangati di setiap keadaan
Waktu terus berjalan, dan kita masih saling berpegangan tangan
Sesak, bukankah memang terasa sesak?
Seharusnya sesak ini yang membuat kita bersyukur
Bahwa dada kita masih disesakkan oleh amal-amal kebaikan,
karena belum mampu kita maksimalkan.
Wahai diri, jika Allah saja sudah menuntunmu pada penjagaan akhirat yang luar biasa,
bagaimana mungkin kau menyia-nyiakannya?
Wahai diri, jika Allah saja sudah memberimu tempat untuk beramal lebih banyak,
bagaimana mungkin semangatmu itu belum nampak?
Padahal akhirat itu nyata, dan dunia yang fana.
2020, harus selalu mengedepankan Allah pada setiap aktivitas.
Dinamika kehidupan semakin terasa sesak.
Tanggung jawab bertambah, namun tak ada yang berubah
Semestinya, tanggung jawab menjadikan kita waspada, bukan merana.
Ingatkah saat semua "kesesakkan" ini berawal?
Aku, kamu, kita, menjatuhkan saja langkah kaki pada jalur kebaikan
Membersamai di segala rintangan, menyemangati di setiap keadaan
Waktu terus berjalan, dan kita masih saling berpegangan tangan
Sesak, bukankah memang terasa sesak?
Seharusnya sesak ini yang membuat kita bersyukur
Bahwa dada kita masih disesakkan oleh amal-amal kebaikan,
karena belum mampu kita maksimalkan.
Wahai diri, jika Allah saja sudah menuntunmu pada penjagaan akhirat yang luar biasa,
bagaimana mungkin kau menyia-nyiakannya?
Wahai diri, jika Allah saja sudah memberimu tempat untuk beramal lebih banyak,
bagaimana mungkin semangatmu itu belum nampak?
Padahal akhirat itu nyata, dan dunia yang fana.
2020, harus selalu mengedepankan Allah pada setiap aktivitas.
Minggu, 25 Agustus 2019
KALA
Berapa banyak kala yang kita lewati
Berapa banyak kala yang tak mampu kita hindari
Berapa banyak kala yang pada akhirnya hanya menjadi sebuah kilas balik kisah-kasih
Meski tak jarang hati merasa tersakiti, tapi kala itu memang sangat berarti
Meski seringkali napas panjang menyelimuti hari-hari, tapi kala itu begitu mewarnai
Amboi, walau begitu, kamu tau arti dari "bahagia itu sederhana?"
Sesederhana kita yang saling menyemangati, tanpa mengingat-ingat hal yang menyakiti.
Kala dirimu bagai deru darai ombak,
mengguncangkan kapal yang sedang berlayar,
membuat ketidakseimbangan segala sesuatu didalamnya,
Diri yang lemah ini hanya mampu menata kemudi,
mencoba segala peluang untuk memperbaiki
Namun, kala matahari terbit bagai semangat baru,
ada saja yang datang awan kelabu,
gelap gulita rasanya menahan rindu,
sebab kita tak mampu memaksa temu
Ah, itu hanya sebuah kala.
yang pada akhirnya hanya menjadi sebuah kilas balik kisah-kasih.
kamu, mari kita berdamai dengan kala itu.
Berapa banyak kala yang tak mampu kita hindari
Berapa banyak kala yang pada akhirnya hanya menjadi sebuah kilas balik kisah-kasih
Meski tak jarang hati merasa tersakiti, tapi kala itu memang sangat berarti
Meski seringkali napas panjang menyelimuti hari-hari, tapi kala itu begitu mewarnai
Amboi, walau begitu, kamu tau arti dari "bahagia itu sederhana?"
Sesederhana kita yang saling menyemangati, tanpa mengingat-ingat hal yang menyakiti.
Kala dirimu bagai deru darai ombak,
mengguncangkan kapal yang sedang berlayar,
membuat ketidakseimbangan segala sesuatu didalamnya,
Diri yang lemah ini hanya mampu menata kemudi,
mencoba segala peluang untuk memperbaiki
Namun, kala matahari terbit bagai semangat baru,
ada saja yang datang awan kelabu,
gelap gulita rasanya menahan rindu,
sebab kita tak mampu memaksa temu
Ah, itu hanya sebuah kala.
yang pada akhirnya hanya menjadi sebuah kilas balik kisah-kasih.
kamu, mari kita berdamai dengan kala itu.
Senin, 15 Juli 2019
Bukti
Seperti jejak-jejak langkah kita, tidak berbekas, namun menjadi bukti perjuangan. Seperti keringat yang bercucuran dikala terik, tidak berbekas, namun menjadi bukti kesungguhan. Seperti senyuman dikala rasa sakit melanda hati, tidak terlihat, namun menjadi bukti keteguhan.
Esensi dari amal-amal terbaik kita layaknya perumpamaan diatas.
Menjadi bukti perjuangan sebab jalan ini memang ditakdirkan untuk orang-orang yang siap berjuang, yang lain dari orang kebanyakan. Tak kenal lelah walau langkah kaki tertatih, tak kenal bosan walau dengan medan juang yang memiliki kesamaan. Semua ini tentang perjuangan. Perjuangan yang murni, tanpa embel-embel duniawi.
Menjadi bukti kesungguhan sebab kita yakin bahwa QS. Muhammad ayat 7 memang benar janji-Nya, bahwa QS. Al-Hujarat ayat 15 memang seharusnya kita perjuangkan. Sebagai bukti kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada keraguan, tidak ada alasan untuk tidak meneruskan risalah dakwahnya. Semua ini tentang kesungguhan. Kesungguhan yang murni, tanpa embel-embel duniawi.
Menjadi bukti keteguhan sebab tak ada lagi yang pantas mengiringi jalan juang selain teguh diatas agama-Nya, diatas jalan kebaikan, diatas jalan amar ma'ruf nahi munkar. Maka, menjaga kondisi ruhiyah, memaksimalkan setiap seruan, dan mengondisikan segala tuntutan kehidupan adalah bunga-bunga keteguhan itu sendiri. Dan, semua ini tentang keteguhan. Keteguhan yang murni, tanpa embel-embel duniawi.
Menjadi bukti perjuangan sebab jalan ini memang ditakdirkan untuk orang-orang yang siap berjuang, yang lain dari orang kebanyakan. Tak kenal lelah walau langkah kaki tertatih, tak kenal bosan walau dengan medan juang yang memiliki kesamaan. Semua ini tentang perjuangan. Perjuangan yang murni, tanpa embel-embel duniawi.
Menjadi bukti kesungguhan sebab kita yakin bahwa QS. Muhammad ayat 7 memang benar janji-Nya, bahwa QS. Al-Hujarat ayat 15 memang seharusnya kita perjuangkan. Sebagai bukti kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada keraguan, tidak ada alasan untuk tidak meneruskan risalah dakwahnya. Semua ini tentang kesungguhan. Kesungguhan yang murni, tanpa embel-embel duniawi.
Menjadi bukti keteguhan sebab tak ada lagi yang pantas mengiringi jalan juang selain teguh diatas agama-Nya, diatas jalan kebaikan, diatas jalan amar ma'ruf nahi munkar. Maka, menjaga kondisi ruhiyah, memaksimalkan setiap seruan, dan mengondisikan segala tuntutan kehidupan adalah bunga-bunga keteguhan itu sendiri. Dan, semua ini tentang keteguhan. Keteguhan yang murni, tanpa embel-embel duniawi.
Senin, 01 Juli 2019
Rumah
Tentang sesuatu yang teramat penting dalam kehidupan ini, yang mengubah hari-hari menjadi berbeda dari sebelumnya. Mungkin, kita tak pernah tau, bahwa takdir membawa kita untuk sampai disini, di tempat yang sudah seperti "rumah" sendiri.
Perjalanan panjang, penuh kekecewaan, sakit hati, di iringi air mata kesedihan, dan ternyata, semua itu yang membawamu untuk bertemu dengan "rumah" istimewa ini. Di dalamnya kau merasa bahagia, diperhatikan dan dijaga dengan sebaik-baiknya, sebagai mujahidah yang melekat izzah dan iffahnya.
"Rumah" ini teramat penting, sebab ada komitmen yang teguh. Keseimbangan yang tercipta membuat langkah-langkah kaki yang kecil ini begitu yakin untuk mencapai tujuan. Tujuan ilahiah yang tak semua orang tau, yang tak semua orang mampu. Lelah memang, banyak ujian yang datang darimana saja. Mata, hati, pikiran, pendengaran, semuanya komplit pernah merasakan ujian-ujian.
Tak menyangka usia sudah sejauh ini. Life plan kembali di rancang dengan mempertimbangkan "rumah" yang mungkin akan terenovasi-menjadi besar. Bukan hanya bermain-main dengan perasaan, tapi orang yang memiliki "rumah" ini pasti gagah dengan visi dan misi, konkrit, dan tetap merawat tujuan yang mulia. Semoga memang seperti itu, sebab hidup ini terlalu murah jika hanya dengan cinta yang sementara.
Seperti definisi rumah yang sebenarnya; ditinggali, dirawat, diperbaharui untuk memenuhi perkembangan zaman, maka "rumah" istimewa ini juga seperti itu. Kemana pun kaki ini pergi, apapun cita-cita duniawi, maka "rumah" ini menjadi tempat terbaik untuk "pulang", sebagai pembalasan rindu, pengingat tujuan, juga refleksi diri, serta pembaharu zaman.
"Rumah" ini memang menjadi bagian pentingnya. Sebab disanalah muara kebahagiaan, perjuangan, dan pengorbanan. Hanya orang yang teguh imannya yang mampu meninggali "rumah" ini. Sebab ada satu kata yang harus mereka emban, satu kata yang begitu berat, namun istimewa, yaitu dakwah.
Minggu, 10 Februari 2019
Suka Duka TA Part 2
Halo
gaes. Assalamu’alaykum. Setelah sekian lama, akhirnya gua punya mood untuk
ngelanjutin cerita ini. Udah kelewat banyak bulan, sampe ganti tahun wkwk
semoga masih dapet feelnya.
Oke. Terakhir gua cerita sampe
ngumpulin naskah (cieilah naskah) untuk Pra Sidang. Ada jeda seminggu untuk
persiapan Pra Sidang. Dalam waktu seminggu itu gua entah kenapa masih aja
ngerjain gambar penulangan di h-3. Ga ngerti lagi, kelewat males atau organisasi
lebih memenuhi otak gua ckck. Dan lu tau ga? Tetep aja gak selesai! Sampe hari
H sidang. Masih aja riweuh baru ngeprint ini itu. Jantung gua deg deg serr.
Panik.
Penguji gua ada 3 orang. Sebut
saja Bu Ririt, Bu Dar, dan Pak Pri. Pra Sidang dan Sidang akhir mekanismenya
beda. Kalo pra sidang kita face to face dgn masing-masing penguji. Kalau sidang
akhir di satu ruangan sekaligus dengan 3 penguji. Oke. Gua skip yang sama Bu
Dar ya karena woles-woles aja seinget gua wkwk. Nah pas mau Bu Ririt, hari
Jumat, Jumat adalah hari yang sangat sakral, doa gua amat sangat khusyuk saat
itu gaes. Berhubung gua sama Sabil, sama-sama di uji oleh Bu Ririt, maka kami
suit utk menentukan siapa yang duluan, gua lupa siapa yg menang, tapi gua yang
duluan maju. Panik. Deg-degan. “Ini harus banget dilewatin apa ya?”
Bu Ririt adalah dosen Struktur
tulen. S1 di UI, S2 di China. Pernah ngajar gua waktu semester 2, Mekanika
Struktur 2. Langkah kaki gua menuju
mejanya amat sangat tertatih wkwk lebay. Stay cool, Na. Bismillah. Bisa.
Bismillah. Bisa. Bismillah. Udah gitu aja diulang-ulang dalam hati. Dengan
membawa semua amunisi yang gua miliki; buku referensi, SNI, dan catetan yang
lainnya, gua berharap bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Ketika sampe
mejanya, gua menghela nafas. Belom juga dikebet tuh lembar-lembar jilidan, udah
dikasih pertanyaan. Gua kira beliau akan men-skip skip lembar-lembarnya,
ternyata engga gaes. Di kebet atu atu. Teliti banget. Singkat cerita, ternyata
gak horror2 amat ya. Baik ibunya :D. Gua dikasih tau yang bener gimana, ujian
rasa bimbingan. Ya walaupun banyak pertanyaan yang gak gua tau jawabannya.
Biarlah itu menjadi debu-debu ke-pea-an gua. Wkwk
Setelah selesai, gua buru-buru
nyamperin Dina dan Sabil. Disitu Sabil juga terlihat panik. Seorang Sabil yang
aahhh wkwk koplak bgt dah dia pokoknya. Semangat Bil, Bisa, kaya bimbingan,
kata gua. Syukur wal hamdulillah tinggal Pak Pri. Sedikit serem juga karena
dapet cerita pengalaman katanya Pak Pri kalau nguji detail bgt. Beda sama di
kelas, anak2 gak dengerin penjelasannya jg di biarin aja, emg dilihat dari
usianya sdh tdk muda lagi gaes. Singkat cerita, di sidang Pak Pri, gua sampe
buka leptop, buka autocad, buka semuanya dah. Jilidan yang gua print ga berguna
kayanya. Hampir 2 jam. Dan itu lama bgt ya dibanding yang lain cuma 30-45
menit. Banyak miskom antara penjelasan gua dan yg ditangkep Pak Pri, hampir aja
gua disuruh sidang ulang sama dia. Gua langsung bilang, “Ntar dulu pak, yang
dimaksud bapak bgmn? Saya bisa coba jelasin lagi.” Akhirnya, dgn debat yg
sangat awet itu berujung pada manggut-manggutnya pak Pri mendengarkan
penjelasan gua. Haaaahhh.. gua menghela napassss panjaaaanggg..
Begitu gaes cerita Pra Sidang.
Banyak revisi. Dan harus ngerjain step selanjutnya; Balok-Kolom, dan Pondasi.
Padet. Gak boleh stop. Gua, Dina dan Sabil bikin timeline DL ulang biar kita
bisa ontime ngumpulin utk sidang akhir. Kita emg demen bgt bikin Deadline, tapi
selalu kelewatan mulu wkwk
Nah.. masuk bulan Ramadhan, gua
rada sebel sbnernya, masa Ramadhan gua pecah fokus sih. Gua pengen fokus
ibadah, tapi TA harus gua kerjain juga. Hmm. Tetep aja TA gua telantarin dlu
pas di 10 hari terakhir sampe lebaran. Ibaratnya dari 100% , progress gua baru
55%. Dan gua masih keliatan nyantai. Singkat cerita, H-30, kita non-stop lagi,
mulai bimbingan lagi. Dan kita harus ngejar target. Bagian Balok-Kolom adalah
bagian ter-ekstrem dalam hidup gua gaes. Mungkin kalo kalian warga Teknik Sipil
pasti paham ya :”) Step-stepnya itu panjaaaang bgt sepanjang jalan TOL. Pakai
aplikasi struktur, namanya SAP. Excel gua sampe ber-sheet-sheet. Tipe balok gua
banyak. Oh My Allah. Pas ngetik ini rasanya gua balik lagi ke hari itu. Huft.
Gua sampe bilang gini pas bimbingan, “Bu.. balok anak saya banyak, saya takut
gak keburu.. “ (muka gua melas bgt), terus kata ibunya, “Gapapa, jalanin aja, yang
penting dikerjain, jangan panik sama DL, rileks aja, jangan sampe ganggu
kesehatan.” Hati gua adem dong. Tapi tetep aja kan yang ngejalanin dan
ngerasain gua :”)
H-2 minggu DL pengumpulan, kita
stuck. Stuck men. Gak bisa lanjut karena Cross kita belum 0,00 koreksinya. Gua
otak-atik lagi dari awal. Periksa nilai FEM, periksa nilai kekakuan, periksa
semuanya. Gua udah hopeless. Udah gak
tidur, tidur-tidur jam 2 jam 3 pagi. Sampe nangis2. Wkwk Udah menjelang DL kita
juga belom bisa memecahkan biang masalahnya. Temen-temen gua yg ngambil MK udah
pada kelar, dan acc sidang. Sebenernya gua udah siap aja kalau emg nambah 1
semester. Tapi, kita tetep ngelobby kaprodi untuk ngasih kita waktu lagi.
Alhamdulillah dikasih jeda 10 hari. Gua, Dina, Sabil tiap weekend emang rutin
ke kampus buat ngerjain bareng. Apalagi pas dikasih waktu 10 hari lagi. Sabil
sempet jatoh dari motor pas menuju kampus, gua sama Dina yg udh ngejogrok di
pendopo FT menyarankan dia utk jgn maksain dateng, balik aja. Eh tapi ttp aja
si Sabil lanjut ke kampus. Sok kuat bgt emg. Aduh gua ngetik sambil pengen
nangis ini. Sabil walaupun koplak gitu tapi aslinya strong bgt, kakak yg care
sama adek2nya, demen bantuin orang. Hari itu bener2 jadi hari yang mengharukan
dlm hidup gua, mungkin Dina dan Sabil juga.
Singkat cerita, kita gak bisa
selesai di waktu 10 hari itu. Temen2 MK udah pada Sidang, lagi masa revisi
sambil ngelengkapin berkas-berkas wisuda. Sedangkan kita masih berkutat dgn ke-horror-an
ini. Tapi alhamdulillah, Allah emg baik bgt, masalah di cross itu bisa
terpecahkan juga, “masih ada harapan.” Finally, gua bisa lanjut ke step
selanjutnya, dan kita nyoba ngelobby kaprodi lagi untuk diperpanjang waktunya.
Alhamdulillah dikasih waktu seminggu lagi. Hari Selasa depan harus dikumpul. Diantara
waktu seminggu itu, gua dan sabil nginep dirumah Dina utk ngerjain bareng,
sekaligus minta acc lewat email ke bu Erna setiap kali kita selesai. Karena si
ibu ini sangat amat detail sekali, kita disalahin mulu, gak ada toleransi sama
sekali, astaghfirullah. Muka sama badan gua udah gak ke urus bgt. Tidur 2 jam
doang, si Dina gak tidur sama sekali kayanya. Merem doang paling 10 menit. Dan
ada satu hal yang bikin gua nangis sekejer-kejernya dimotor, gua gak ikut agenda
daurah bareng sohib2 FT. Agenda yg udh gua tunggu2, udh semangat bgt pokoknya,
gua pikir gua bakalan udah ngumpulin TA sebelum agenda itu, ternyata belom. Sedih
bgt.
Sampailah di hari Selasa gaes.
Kita blm dapet ttd bu Erna. Akhirnya kita nambah 1 hari lagi. Beliau nyuruh
kita untuk dateng jam 10 tapi set.12 baru dateng. Alhamdulillah selama 1,5 jam
itu kita bisa memejamkan mata di ruang tunggu. Alhamdulillah tanpa panjang
kalam si ibu ngasih ttd dan acc Sidang. Dan di hari itu juga kita dapat jadwal
Sidang, hari Senin depan. Ada waktu 4 hari untuk mempersiapkannya.
Mungkin
segitu dulu yaaaa.. :D lanjutannya di Part 3 insya Allah..
Wassalamu’alaykum..
Sabtu, 15 September 2018
Suka Duka TA PART 1
Assalamu’alaykum warahmatullahi
wabarakatuh..
Alhamdulillah akhirnya bisa bebas
berkespresi lagi.. Kali ini saya mau sharing tentang perjalanan panjang penuh
drama mahasiswa tingkat akhir.. Mungkin akan panjang kali lebar karena pengen
secara detail menceritakannya. Semoga bermanfaat !
Di akhir semester 5 saya sudah
memiliki rencana akan mengambil konsentrasi apa untuk Tugas Akhir. Jadi, di
Teknik Sipil UNJ itu memiliki dua jenis peminatan TA, yaitu; Manajemen
Konstruksi dan Struktur. Sebagaimana pengalaman abang-kakak terdahulu,
Manajemen Konstruksi yang paling banyak diminati, karena? Katanya sih, lebih
mudah dan gak terlalu puyeng kaya Struktur. Bagi yang belom tau Manajemen
Konstruksi itu apa, bisa googling aja. Tapi, intinya MK itu menghitung Rencana
Anggaran Biaya dari suatu bangunan dan Penjadwalan pelaksanaannya. Kalau
Struktur, merencanakan strukturnya (kolom, balok, pelat, tangga, fondasi);
menentukan dimensi, diameter tulangan, butuh tulangan berapa, jarak berapa,
dsb. Dan untuk menentukan semuanya itu, ada perhitungan yang super-duper ciamik
bin ribet bin pusing bin (pengen meninggal aja) wkwk bcs aaahh gua sampe gak
bisa mendekripsikannya dengan kata-kata wkwk.
Oke, next dulu. Btw gak enak ya
pake “saya”, ngomongnya “gua” aja deh ya biar lebih asik. Yup, gua ngambil
peminatan Struktur. Kenapa? Karena entah kenapa kalau ngerjain mata kuliah
struktur bawaannya semangat aja dan bikin penasaran kalau pas ngerjain soal gak
dapet jawabannya. And fyi aja matkul Struktur gua paling kecil B+. Wkwk sombing
eh sombong. Gua sangat berambisi untuk wisuda di september (ceria) 2018. Maka,
yang gua lakukan pertama kali adalah nanya-nanya ke abang-kakak tentang tips
and trik dalam memperjuangkan TA Struktur. Sebelumnya, gua mau ngasih tau dulu siapa
dosen yang akan membimbing gua. Siapa? Siapa? Sebut saja bu Erna. Dosen yang
paling banyak ditakutin, disebelin, digondokin sama mahasiswa T. Sipil UNJ.
Tidak ada mahasiswa yang tidak tahu dengan dospem gua itu. Karena beliau amat
sangat perfectionis dan detail sekali. Jadi, lu ketauan salah dikit, langsung,
perbaiki ! Terus, gua berjuang di TA Struktur ini gak sendiri, ada dua kawan
gua yang gesrek tapi saling bantu banget, sebut saja mereka Dina dan Sabil.
Sip. Berhubung gua juga anak
organisasi, sangat riskan sekali untuk gak lulus tepat waktu. Wkwk. Ya ada lah
kadang pikiran gua terbesit hal demikian. Tapi, tetep resolusi 2018 gua adalah
wisuda. Memasuki tahun 2018, tepatnya di bulan Februari, gua sama dina dan
sabil sudah mulai mempersiapkan diri untuk Uji Kelayakan Judul dan Gambar.
Gambar-gambar yang akan diujikan meliputi Denah (lantai, balok, kolom), Tampak
(depan, belakang, kanan, kiri), dan potongan (arah x maupun arah y). Banyak
yah. Jangan mabok dulu gaez. Dalam masa-masa pencarian gambar denah, gua dapet
Bangunan Gedung Puskesmas 3 Lantai, si Dina dan Sabil bangunan sekolah 4
Lantai. Seiring berjalannya waktu, kita pun udah 5x bimbingan hanya untuk uji
kelayakan gambar doang men. Pas uji kelayakan pun punya gua gak sekali langsung
bener, tapi ada revisi lagi dan gua harus gambar potongan ulang. Fyi aja gua
nangis di kantin sambil telponan sama abang gua. :( Karena gambar itu makan
waktu banyak banget. Sebulanan cuma ngurusin gambar. Subhanallah.
Masuk bulan Maret, tepatnya
tanggal 8 kita baru beneran bimbingan alias baru terhitung bimbingan pertama
karena baru lulus uji kelayakan. Well, aktivitas organisasi udh mulai padet
lagi :). Sejauh ini gua ngerjain TA masih nyantai-nyantai aja, dan gua lebih
banyak fokus ke organisasi (FSI AL-Biruni) :D, belom banyak tekanan dari dospem
tapi tetep ada progress walaupun sedikit-sedikit. Masih suka pencitraan di
snapgram, dsb. Wkwk ah alay bgt gua.
Gua mau mundur sedikit nih,
kenawhy gua memilih jadi anak organisasi khususnya lembaga dakwah? Bukan BEM
atau yang lainnya. Pertama, lu akan disibukkan dengan hal2 yang insya Allah
bermanfaat, emang itu yang gua cari, takutnya waktu luang yang kita punya malah
jadi tempat maksiat kalo kita gak sibuk sama hal-hal baik. Kedua, gua mau merubah orientasi hidup, kalo
dulu tujuannya masih dunia, masih pengen enak-enak aja, maka sekarang tujuannya
bener-bener akhirat, nyari tempat “perjuangan” yang menempa diri lu untuk ber-mindset
akhirat. Mungkin temen-temen kita banyak yang heran, banyak yang gak habis
pikir sama jalan hidup kita, mereka ngeliatnya kita sibuk, ngapain sih banyak
agenda, yaa mereka gatau aja kalo kita selalu ingin menjemput hidayah Allah,
kalo kita ingin mengabdi untuk Allah, bukan hanya sekedar kuliah, terus pulang,
terus main, terus nyantai-nyantai. Jadi, dipenghujung kuliah gua pun, gua masih
berbahagia hadir syuro, hadir agenda-agenda kebaikan, yaa walau kita juga harus
bisa seimbang antara orang tua, aktivitas kampus, dan –ngerjain tugas akhir-.
Gua merasakan sulitnya untuk bisa adil dengan setiap hal dalam hidup gua. Sulit
bener. Haqqul yaqin. Tapi, alhamdulillah Allah selalu ngasih
kemudahan-kemudahan dan pertolongan. Asalkan yakin aja. Hehe
Oke, kita lompat lagi. Di bulan
Maret-April sampe Mei awal gua masih rutin bimbingan, udah mulai panik karena
Pra Sidang tgl 13 Mei waktu itu. Belom ada problem yang sulit sih sejauh ini.
Cuman pas malemnya dan besok harus dikumpul, gua begadang, karena perhitungan
Tangga gua belom kelar, mau nangis tapi gimana ya.. plus gambar-gambar tulangan
gua juga gak akan sempet bikin. Karena panik, gua udah gak konsen aja
ngerjainnya. Ya Allah, akhirnya gua nge-chat kakak sipil yang as always gua
curhatin. Kak Mia namanya. Gua tanya kan, boleh gak kalau ngumpulin tapi gambar
tulangannya belom ada, dan you know what dibalesnya? Katanya, boleh aja, asal
pas ujian pra sidang semua kekurangannya di bawa. Abis itu yaudah gua gak panik
lagi (gak nangis lagi K),
interval ngumpulin sampe ujian ada jeda seminggu, insya Allah kelarlah
gambar-gambarnya. Karena siangnya abdi ada syuro BPH FSI, maka pagi-pagi gua
udah gerak cepat biar siang udah kelar. Tapi qodarullah walhamdulillah jam
set.2an baru bener-bener kelar dan ngumpulin. Abis itu langsung cus ke sekret J.
Udah panjang banget niihh
ceritanyaa... Lanjut di Part 2 yea.... akan lebih seru dan menegangkan..
Senin, 23 Juli 2018
Ayo Bangun :)
Keberadaan kita kadang sangat diinginkan oleh seseorang
Tapi mungkin saja kita tidak menyadari, dan lebih memilih untuk menghilang dari peradaban
Atau, kita masih belum mampu berdamai dengan keadaan
Yaa, pantas saja semua terasa penuh tekanan
Pernah tidak kalian berpikir,
jika tidak di tekan, mungkin kita tidak akan gerak?
jika tidak di tekan, mungkin kita akan santai-santai saja?
jika tidak di tekan, mungkin kita menjalankan segala sesuatunya tanpa keseriusan?
Ah, tekanan hanya membuat pusing saja, bukan?
Itu tandanya kita tak mampu memaksimalkan usaha
Padahal, tekanan itu yang bisa mendorong akal kita, langkah kita,
Iya ! Langkah kita ! Agar KONKRIT dalam BERGERAK
Wahai kalian yang merasa tak bisa di tekan ini-itu !
Tidak ada alasan untuk tidak berbahagia dalam tekanan. :)
Kita hidup di jaman yang semakin gila,
Manusia makin banyak tingkah,
Teknologi yang semakin canggih tapi nyatanya perusak tatanan moral
Nyaman kah kita dengan berdiam saja?
Tanpa menoleh sekitar?
Ena-ena dengan zona nyaman dan acuh dengan keadaan?
Bukan urusan gue?!
Melek !
Ah, hanya igauan malah hari,
tapi mungkin saja ada benarnya,
Cobalah untuk berpikir selayaknya "kita saling membutuhkan."
Agar kapal ini tetap kokoh walau diterjang ombak yang besar,
Agar kapal ini tetap kokoh walau penuh dengan tambalan,
Pelayar dikatakan tangguh bukanlah menghadapi lautan yang tenang, kan?
Sama seperti kehidupan kita,
Keadaan bisa saja ricuh, mendadak penuh dengan tekanan,
mendadak berubah tanpa permisi, orang2 pun mendadak menjengkelkan,
Iya, orang-orang, yang katanya adalah kawan, tapi meyebalkan sekali. Biarlah..
Tapi hati? Tiada alasan untuk ketar-ketir sebab yang senantiasa ingat Allah, pastilah hatinya tenang.
Hati boleh tenang, tapi langkah harus tetap kokoh berwibawa, tak akan gentar tak akan pudar.
Ayo bangun :)
Minggu, 08 Juli 2018
Penerimaan
23.02
Waktu dimana segala hal dalam pikiran meminta untuk segera dituangkan dalam sebuah tulisan.
Kebanyakan orang mungkin sudah terlelap dalam tidurnya
Ada juga yang masih terjaga dengan setumpuk tugas yang musti diselesaikan, atau hanya bermain dengan gadgetnya, entahlah.. mungkin aku yang masih asyik menari-nari dalam pikiran, di depan laptop, di temani suara kipas angin.
Kesunyian kadang memaksaku untuk bisa memaknai setiap detil takdir-Nya.
Realitas yang ada jelas memperlihatkan kepadaku bahwa, "Kau sedang diuji."
Sulitnya mengkondisikan hati agar tak lagi angkuh, agar tak lagi kecewa,
Nyatanya, seberapapun kau punya rencana, lalu berjuang, berkorban, hingga tergopoh-gopoh, ujung-ujungnya adalah sebuah penerimaan.
Kehidupan ini memang sebuah penerimaan, bukan?
Entah itu manis atau pahit, kau tetap harus menelannya lamat-lamat.
Lalu, kau tinggal pilih,
mau berhenti? atau terus berjalan sampai menemukan akhirnya,
pada sebuah kebahagiaan?
ataukah kesengsaraan?
23.26
Aku masih terjaga, mencoba berdamai dengan hati.
Sesuatu yang amat vital. Sesuatu yang bisa menjadi kekuatan atau kelemahan.
Kekuatan hati bisa membawamu pada sebuah penerimaan yang baik, penerimaan yang ikhlas.
Jika hatimu lembut, maka setiap ujian yang datang adalah sebuah kebahagiaan.
Kenapa?
Karena lagi-lagi Tuhanmu masih menginginkanmu untuk mendekat kembali kepada-Nya.
Tuhanmu masih ingin melihatmu bersungguh-sungguh dalam mencinta kpd-Nya.
Seberapa murni rasa cintamu? Mana buktinya?
Seberapa yakin dirimu dengan kuasa Tuhanmu?
Innalladzina qaalu Rabbunallah.. Sesungguhnya orang-orang yang berkata bahwa, Tuhan kami adalah Allah.. jika dirimu yakin, jika hatimu yakin bahwa Allah adalah Tuhanmu,
tsummastaqaamu.. kemudian kamu meneguhkan pendirianmu, istiqomah di jalan Allah, istiqomah dalam ketaatan dan keimanan..
tatanazzalu 'alaihimul malaaikah.. maka malaikat akan turun dan berkata...
alla takhafu.. Janganlah kamu merasa takut !
wa laa tahzanuu dan janganlah kamu merasa sedih !
wa abshiru bil jannatillati kuntum tu'aduun.. dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu..
Ayat paling pamungkas jika kau tengah merasa takut dan khawatir akan kefanaan ini.
Aku mengajak diriku, juga kalian, untuk selalu bisa menciptakan keikhlasan dalam sebuah penerimaan, tanpa ada tapi yang menduakan Allah, tanpa ada tapi yang mengingkari takdir Allah, tanpa ada tapi yang bisa melunturkan cintamu pada Allah.
Yakinlah wahai hati, kesuksesan duniamu itu terletak pada kesuksesan akhiratmu.
Ruku'lah dengan ruku' terbaik
Sujudlah dengan sujud terbaik
Sembahlah Allah dengan kekuatan terbaikmu
dan berbuatlah KEBAIKAN,
untuk apa?
la'allakum tuflihuun.. agar kamu beruntung. (QS Al-Hajj:77)
agar kita beruntung, kawan. keburuntungan versi Allah, bukan versi manusia.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Setiap tulisan yang tercipta adalah semata-mata untuk mengingatkan diri ini yang masih begitu lemah. Semoga bermanfaat. Selamat berjuang !
Waktu dimana segala hal dalam pikiran meminta untuk segera dituangkan dalam sebuah tulisan.
Kebanyakan orang mungkin sudah terlelap dalam tidurnya
Ada juga yang masih terjaga dengan setumpuk tugas yang musti diselesaikan, atau hanya bermain dengan gadgetnya, entahlah.. mungkin aku yang masih asyik menari-nari dalam pikiran, di depan laptop, di temani suara kipas angin.
Kesunyian kadang memaksaku untuk bisa memaknai setiap detil takdir-Nya.
Realitas yang ada jelas memperlihatkan kepadaku bahwa, "Kau sedang diuji."
Sulitnya mengkondisikan hati agar tak lagi angkuh, agar tak lagi kecewa,
Nyatanya, seberapapun kau punya rencana, lalu berjuang, berkorban, hingga tergopoh-gopoh, ujung-ujungnya adalah sebuah penerimaan.
Kehidupan ini memang sebuah penerimaan, bukan?
Entah itu manis atau pahit, kau tetap harus menelannya lamat-lamat.
Lalu, kau tinggal pilih,
mau berhenti? atau terus berjalan sampai menemukan akhirnya,
pada sebuah kebahagiaan?
ataukah kesengsaraan?
23.26
Aku masih terjaga, mencoba berdamai dengan hati.
Sesuatu yang amat vital. Sesuatu yang bisa menjadi kekuatan atau kelemahan.
Kekuatan hati bisa membawamu pada sebuah penerimaan yang baik, penerimaan yang ikhlas.
Jika hatimu lembut, maka setiap ujian yang datang adalah sebuah kebahagiaan.
Kenapa?
Karena lagi-lagi Tuhanmu masih menginginkanmu untuk mendekat kembali kepada-Nya.
Tuhanmu masih ingin melihatmu bersungguh-sungguh dalam mencinta kpd-Nya.
Seberapa murni rasa cintamu? Mana buktinya?
Seberapa yakin dirimu dengan kuasa Tuhanmu?
Innalladzina qaalu Rabbunallah.. Sesungguhnya orang-orang yang berkata bahwa, Tuhan kami adalah Allah.. jika dirimu yakin, jika hatimu yakin bahwa Allah adalah Tuhanmu,
tsummastaqaamu.. kemudian kamu meneguhkan pendirianmu, istiqomah di jalan Allah, istiqomah dalam ketaatan dan keimanan..
tatanazzalu 'alaihimul malaaikah.. maka malaikat akan turun dan berkata...
alla takhafu.. Janganlah kamu merasa takut !
wa laa tahzanuu dan janganlah kamu merasa sedih !
wa abshiru bil jannatillati kuntum tu'aduun.. dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu..
Ayat paling pamungkas jika kau tengah merasa takut dan khawatir akan kefanaan ini.
Aku mengajak diriku, juga kalian, untuk selalu bisa menciptakan keikhlasan dalam sebuah penerimaan, tanpa ada tapi yang menduakan Allah, tanpa ada tapi yang mengingkari takdir Allah, tanpa ada tapi yang bisa melunturkan cintamu pada Allah.
Yakinlah wahai hati, kesuksesan duniamu itu terletak pada kesuksesan akhiratmu.
Ruku'lah dengan ruku' terbaik
Sujudlah dengan sujud terbaik
Sembahlah Allah dengan kekuatan terbaikmu
dan berbuatlah KEBAIKAN,
untuk apa?
la'allakum tuflihuun.. agar kamu beruntung. (QS Al-Hajj:77)
agar kita beruntung, kawan. keburuntungan versi Allah, bukan versi manusia.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Setiap tulisan yang tercipta adalah semata-mata untuk mengingatkan diri ini yang masih begitu lemah. Semoga bermanfaat. Selamat berjuang !
Sabtu, 26 Mei 2018
Langit
Siapa yang tahu dengan keikhlasan seseorang? Tidak ada yang tahu kecuali dia dan Tuhannya.
Terkadang kita butuh merenung. Memaknai setiap jengkal kehidupan ini. Mencari hikmah di balik setiap hal yang terjadi. Hingga akhirnya kita mampu untuk terus berjuang, menggapai asa tanpa lupa dengan sesama.
Ketika kau mulai bertanya, "Mengapa aku harus berlelah-lelah hanya untuk orang lain?" Ingatlah bahwa kau diciptakan untuk sebuah misi. Ingatlah lagi bahwa Tuhanmu Maha Penyayang, tidakkah kau merasa bersyukur? Maka diam dan berleha-leha bukanlah kriteria seorang hamba yang dicintai-Nya.
Langit selalu berhasil membuatku jatuh. Jatuh ke dalam sebuah perenungan yang amat dalam. Menyadarkan bahwa Tuhanku, Allah, adalah Maha Besar. Dengan apalagi aku harus berterimakasih atas segala nikmat yang Dia berikan selain rasa syukur dan terus bergerak untuk menegakkan agama-Nya?
Selama ini kita sudah memberikan apa untuk Allah? Jangan-jangan tangisan kita dihadapan-Nya masih palsu, jangan-jangan kita masih tidak jujur dalam beribadah. Istighfar, istighfar atas segala kesombongan yang tanpa sadar sudah membenih dalam diri. Malu dengan amalan yang begitu-begitu saja, tidak bertambah tapi malah berkurang. Malu dengan hafidz cilik yang diusianya ia mampu menjaga Allah dengan Al-Quran yang sudah terpatri dalam hati dan jiwa mereka. Malu dengan maksiat yang masih sering dilakukan. Malu. Malu sekali.
Ah, kadang ego masih memenangkan segalanya. Tanpa sadar orang lain terdzolimi karena kita. Kita asik sendiri dengan dunia yang lain dan lupa akan tanggung jawab yang sudah tersematkan pada pundak kita. Ah, munafik-kah, kita?
Entahlah.. mungkin aku harus menampar diriku berkali-kali atas segala kemunafikan ini.
Langit masih menjadi tempat terbaik untuk menatap, dengan segala keromantisannya. Tempat paling tulus dalam mengagungkan kebesaran-Nya. Terimakasih, Allah, atas segalanya. Tak ada alasan untuk tidak mencintai-Mu.
Terkadang kita butuh merenung. Memaknai setiap jengkal kehidupan ini. Mencari hikmah di balik setiap hal yang terjadi. Hingga akhirnya kita mampu untuk terus berjuang, menggapai asa tanpa lupa dengan sesama.
Ketika kau mulai bertanya, "Mengapa aku harus berlelah-lelah hanya untuk orang lain?" Ingatlah bahwa kau diciptakan untuk sebuah misi. Ingatlah lagi bahwa Tuhanmu Maha Penyayang, tidakkah kau merasa bersyukur? Maka diam dan berleha-leha bukanlah kriteria seorang hamba yang dicintai-Nya.
Langit selalu berhasil membuatku jatuh. Jatuh ke dalam sebuah perenungan yang amat dalam. Menyadarkan bahwa Tuhanku, Allah, adalah Maha Besar. Dengan apalagi aku harus berterimakasih atas segala nikmat yang Dia berikan selain rasa syukur dan terus bergerak untuk menegakkan agama-Nya?
Selama ini kita sudah memberikan apa untuk Allah? Jangan-jangan tangisan kita dihadapan-Nya masih palsu, jangan-jangan kita masih tidak jujur dalam beribadah. Istighfar, istighfar atas segala kesombongan yang tanpa sadar sudah membenih dalam diri. Malu dengan amalan yang begitu-begitu saja, tidak bertambah tapi malah berkurang. Malu dengan hafidz cilik yang diusianya ia mampu menjaga Allah dengan Al-Quran yang sudah terpatri dalam hati dan jiwa mereka. Malu dengan maksiat yang masih sering dilakukan. Malu. Malu sekali.
Ah, kadang ego masih memenangkan segalanya. Tanpa sadar orang lain terdzolimi karena kita. Kita asik sendiri dengan dunia yang lain dan lupa akan tanggung jawab yang sudah tersematkan pada pundak kita. Ah, munafik-kah, kita?
Entahlah.. mungkin aku harus menampar diriku berkali-kali atas segala kemunafikan ini.
Langit masih menjadi tempat terbaik untuk menatap, dengan segala keromantisannya. Tempat paling tulus dalam mengagungkan kebesaran-Nya. Terimakasih, Allah, atas segalanya. Tak ada alasan untuk tidak mencintai-Mu.
Rabu, 25 April 2018
Rutinitas
Assalamau'alaykum wr wb.
Alhamdulillah malem ini sengaja memaksa diri untuk nge-blog lagi. Btw, kali ini ocehan gua bukan tentang tausyiah atau motivasi kaya biasanya, tapi mau cerita aja tentang rutinitas gua sekarang yang mulai bikin penat.
Btw, sekarang cuaca lagi gak nentu banget ya. 3 hari ini Jakarta diguyur hujan, suasananya gelap aja gitu karena mendung terus. Hari ini aja gua keujanan, sepatu basah dan gua pake selama dikampus sampe sore. Subhanallah. Jaga kesehatan gaes, jangan minum es, jangan makan gorengan, tapi kalo gua gapapa wkwk bandel.
Ok next.
Insya Allah ini tahun terakhir gua kuliah di UNJ, insya Allah. Pegangan gua setiap hari itu Tugas Akhir. Sebenernya gua lagi penat aja sekarang dan maksa nge-blog biar refreshing dikit. Otak gua kaya jenuh aja gitu, isinya angka-angka, mikirin mutu beton yang ternyata ketinggian dan gua harus nurunin mutu betonnya, kalo gua nurunin mutu betonnya otomatis itungan gua di rasio tulangan berubah semua, udah kek ngitung ulang men. Subhanallah. Dan pengumpulan untuk Pra Sidang itu tgl 1-3 Mei, sekarang udah tgl 25. Ehe. Makanya nih gua mau begadang, tapi bodoamat gua mau nge-blog dulu. Tapi emang fokusan gua sekarang adalah Tugas Akhir, karena Tugas Akhir adalah salah satu cara untuk menyelesaikan amanah orang tua. Tau kan ya amanah orang tua itu nomor 1? Makanya gua gak mau molor-molor, gua mau bikin mereka bahagia karena gua bisa lulus tepat waktu, Insya Allah, dan lebih meringankan beban mereka dalam membiayai kuliah gua. Walaupun, jujur aja, gua belom kepikiran abis wisuda mau ngapain, kerja kah? Lanjut kuliah lagi kah? atau kerja sambil kuliah? Sebenernya gua masih mau belajar terus, karena gimana ya, gua kaya belum ngerasa mumpuni untuk terjun ke dunia kerja yang ke-tekniksipil-an, ilmu gua tentang perencanaan masih sebatas paham tapi belum mendalami, dan usia gua masih terbilang muda wkwk masih pengen banyak mengeksplor ilmu pengetahuan. Gitu deh.
Next.
Selain ngerjain Tugas akhir yang sering bikin gua penat, kesibukan gua yang lain adalah organisasi. Nah ini, sore gua selama 5 hari kerja, dari senin sampe Jumat udah abis gak kesisa. Sebenernya dari awal masuk kuliah dan terjun ke dunia organisasi udah sering ninggalin temen-temen kelasan gua, yaa walaupun gua masih nyempetin untuk makan siang bareng. Alhamdulillah ya, walaupun gua masih aktif organisasi dan ditempat kan di tempat yang sama seperti tahun lalu, alhamdulillah adek2 departemen gua sangat membantu sekali, dan yang bikin gua seneng adalah mereka mau gerak, gak diem-diem bae, sering inisiatif dan rame. Jujur aja, gua emang orangnya susah ngasih ide, apalagi ide-ide kreatip, aduh sulit men. Gimana ya, mungkin otak gua emang gak bisa liar kaya mereka yang gampang mencetuskan ide wkwk yaa namanya juga manusia, ada kurangnya. So, gua hanya menjadi supporting system aja disini, sebisa mungkin ngontrol proker agar sesuai timeline yang udah dibuat. Tapi, ya lagi-lagi, adaa aja yang bikin jadi molor dari timeline, padahal udah di reminder, entah dari kesibukan masing-masing atau masalah teknis yang tak terduga. Sabar. Dari dulu emang evaluasinya gitu, gak sesuai timeline. Ya sudah, gua selalu berusaha menerima dan berhusnudzon kedepannya akan seirama lagi. Gitu ya. Btw, gua bukan sok sibuk, tapi sibuk beneran wkwk seminggu syuro bisa ampe 4x dengan orang2 yang berbeda. Gitu aja rutinitasnya. Jenuh gak? Kalo dipikir-dipikir ya monoton aja gitu. Tapi, tetap harus dijalani, disyukuri. Semoga ya semua aktivitas kita, kesibukan kita, semuanya untuk kebaikan. Jangan sampe nih, lu capek, tapi capeknya bukan untuk kebaikan-kebaikan. Rugi men.
Next.
Tugas akhir, organisasi, terus apalagi ya. Sebenernya gua rada sedih, lebay ya, tapi iya, sedih karena gua belom ngabisin baca satu buku di bulan ini. Gimana ya, kalo mau baca, gua keingetan TA mulu, akhirnya gak jadi baca. Btw, buku yang belom abis gua baca itu adalah siroh nabi Muhammad karya Marthin Lings, beliau itu muallaf. Sebenernya gua udah pernah baca siroh nabi, tapi ya gitu masih lupa-lupa, karena bukunya itu best seller jadi gua kepo banget, pasti ada yang membedakan kenapa dia jadi best seller. Terus ya, gua masih nge-keep satu buku lagi men, judulnya Pergi karya penulis favorit gua, yaitu bang Tere. Gua nahan-nahan betul. Gua harus ngabisin siroh nabi dulu apa baca Pergi, ya? Ah, lagi-lagi gua keingetan TA. Btw udah satu jam jari gua menari nari di atas keyboard ini wkwk ((menari-nari)). Kopi gua juga udah dingin ternyata. Gitu. Kapan ya bos gua punya me-time sama buku? Kapan?! Abis TA gua kelar?! Ya Rabb. Jangan sampe abis gua nge-blog ini gua ngantuk terus tidur, dan TA gua terbengkalai lagi, padalah besok bimbingan. wkwk tuh kan, refreshing gua aja masih keingetan TA mulu. Horror bat lu.
Oke next.
Kayanya emang melem ini blog gua isinya curhatan deh. Tapi ya, intinya, mau sesibuk apapun elu, mau se-hectic apapun hidup lu, tetep niatin karena Allah, tetep jangan lupain Allah, malah harusnya semakin banyak yang bikin lu pusing, semakin deket hubungan lu sama Allah. Iya gak sih? Masalah dan ujian itu dateng sebagai nikmat. Nikmat karena Allah masih sayang sama lu dan pengen lu terus deket sama Dia. Bukan hanya kebanyakan ngeluh. Rugi men rugi. Hidup cuma sebentar, malah cuma senda gurau dan permainan belaka. Lu capek capek berjuang buat dunia, tapi bukan untuk kebermanfaatan, RUGI. Serius dah. Lu capek-capek ngejar-ngejar dunia tapi ibadah ditinggalin, RUGI. Lu lahir kedunia ini cuma nyari ketenaran, cuman jadi orang yang orientasinya dunia, cuma ngejalanin SD-SMA terus kuliah abis itu kerja tanpa adanya misi untuk menegakkan agama Allah, RUGI. Semoga Allah terus menuntun kita untuk selalu berada dalam agenda kebaikan. Semoga iman kita lebih tebal daripada nafsu kita. Semoga ketaqwaan selalu mengiringi langkah kita. Aamiin.
Mungkin segini dulu untuk malam ini. Sesi curhat banget ya wkwk. Gapapa sekali-kali. Semoga ada hal positif yang bisa diambil. Yang jeleknya di istighfar-in aja.
Semangat menggapai mimpi!
Semangat pokoknya semangat!
Wassalamu'alaykum wr wb.
Selasa, 13 Maret 2018
Akhtivis - Akhi, IPK Tivis~
Assalamu'alaykum para mahasiswa yang katanya aktivis tapi IPK tivis!!
Bismillah..
Kali ini gue pengen ngoceh tentang hal yang penting gak penting sih.. Seorang aktivis dan IPK-nya !
Aktivis. Organisatoris.
Identik dengan sibuk rapat, syuro, agenda ini itu. Hampir waktu sore itu udah gak ada. Berangkat pagi pulang pagi. Akhirnya keseringan nge-lost dikelas. Gak konsen sama dosen. Apalagi belajar lagi. Kayanya gak ada. Paling belajar menjelang UTS dan UAS. Miris. (Gue termasuk kayanya, wkwk).
Tapi, gua salut sih, bangga malah, dengan mereka para aktivis yang gak hanya memikirkan diri sendiri, tapi orang lain. Karena memang gak ada sebuah lembaga kemahasiswaan berdiri untuk menyengsarakan orang lain, gak ada. Tujuannya semua untuk memberi kebermanfaatan, meningkatkan minat-bakat orang lain, dsb. Wajar sih kalau sulit memanajemen waktu antara kuliah, belajar, dan organisasi. Tapi, disitulah titik ujiannya. Kuliah terdepan, rajin ngerjain tugas, organisasi jalan, keren gak tuh? Banget. Waktu mudanya bermanfaat banget dah tuh. Ditambah ilmu agama gak ketinggalan, sering dateng kajian, rajin baca Al-Quran. Cakep udah.
Tapi, masalahnya adalah, sebagian besar aktivis tidak sadar bahwa amanah orang tua itu nomor 1, mengabaikan kuliahnya dan berimbas pada IPK atau nilai akhir mereka sendiri. Tivis boy. Banyak mata kuliah yang ngulang lah, nilainya nge-pas kkm, atau ada yang belagu kaya gue wkwk udah lulus tapi gak merasa puas terus ngambil matkul itu lagi tapi malah jadi gak lulus, miris, akhirnya ngulang untuk ke-2 kalinya. Ini aib sih. Tapi gpp, buat pelajaran kalo jadi mahasiswa gak usah sok-sok an, syukuri aja nilai yang udah jelas-jelas lulus.
Oke next.
So, IPK, penting gak sih?
Suatu indeks prestasi yang kedatangannya ketika akhir semester mendadak horror. Sebuah nilai yang menandakan sebenarnya kalian itu oon atau pinter paham atau tidak dengan ilmu yang selama ini dipelajari.
Dibilang penting, emang iya. Karena, selain untuk tolak ukur kelulusan kita di dunia perguruan tinggi, juga buatlah orang tua kita bangga karena anaknya menjadi teladan di kelas. Bisa mengajarkan kawan-kawannya mata kuliah yang sulit. Itu baru top. Kebermanfaatannya nyampe. Apalagi aktivis di lembaga dakwah. Gue rasa udah paham betul urgensi menuntut ilmu, urgensi berbakti pada orang tua, urgensi menjadi manfaat bagi orang lain. Salah satu strategi terkecil adalah ya menjadi panutan di kelas. Selain kita jadi pinter, kita juga bisa mengajak mereka mendekat pada Allah. Lebih ngena. Lebih nyampe. Insya Allah.
Dibilang gak penting? Salah sih. Dengan alasan apapun. Ada yang bilang;
biarin nilai jelek yang penting paham.
Mana ada orang paham nilainya jelek? Insya Allah kalau paham ya nilainya pasti bagus, kecuali jelek karena hal-hal teknis karena lu gak teliti. Itu beda lagi, takdir lain, ujian keimanan yang berbeda, ujian ketegaran. Fyuh.
Gak usah muluk-muluk, yang penting lulus.
Ini nih yang kebanyakan jadi sandaran para aktivis. Lulus aja udah syukur. Ya gak masalah sih. Suka-suka lu aja. Targetannya rendah banget tapi bos. Yang penting lulus itu adalah targetan tingkat bawah sejagad raya kalo kata kawan saya. Di organisasi target lu tinggi, kenapa buat nilai sendiri gak bisa? Inget poinnya ya, untuk kebermanfaatan. Bukan meninggikan diri sendiri. Apalah kita.
Nilai bagus tapi dari nyontek, buat apa? Mending pas-pas an tapi hasil sendiri.
Mendingan hasil sendiri dan nilai bagus lah. Walaupun sulit, tapi kita tetap harus mengusahakannya. Jangan bilang gak ada waktu buat mikirin mata kuliah. Santai aja bos. Ada Allah. Waktu bukan masalah. Tapi kitanya yang belum bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Masih terlalu carut-marut dengan spekulasi pribadi.
Akhi, ukhti.. IPK jangan tivis yah. Yaa minimal 3.00 lah :D Sedih lah kita kalo orang lain memandang kita dapet IPK jelek karena "jadi aktivis". :(
Dakwah itu penting. Coba jadikan IPK itu adalah salah satu bagian dari dakwah, maka ia menjadi penting. :)
"Orang yang hatinya hidup, yang menaklukan masa lalu dan masa depan, bisa melampaui batasan-batasan waktu. Orang-orang seperti ini tidak pernah terlalu tertekan oleh duka-cita masa lalu atau terlalu cemas dengan masa depan."
- M. Fethullah Gulen
(Majalah Mata Air)
Senin, 29 Januari 2018
Tentang Kamu
Ibarat laut, kamu itu menenangkan.
Ibarat gunung, kamu itu menyejukkan.
Ibarat matahari, kamu itu menghangatkan.
Ibarat bintang, kamu itu meramaikan dikala suatu ketika hidup terasa gelap.
Ketika pada fase itu aku hampir saja berhenti dari pelayaran, Allah senantiasa menguatkan dan menuntunku hingga akhirnya aku sampai di dermaga hijau ini. Walau sebenarnya dermaga ini bukanlah target awalku, tapi seiring berjalannya waktu, perlahan Allah membuka tabir kebahagiaan itu, dan membuka ruang pikiranku untuk berpikir lebih melangit.
Iya, kamu, adalah salah satu dibalik tabir kebahagiaan itu.
Hadirmu di dermaga ini pun adalah takdir dari serangkaian perjalanan panjang mu, bukan?
Allah telah menuntun kita dengan cara yang berbeda-beda tapi pada akhirnya memang kita di takdir kan untuk saling mengenal, di sebuah lingkaran kecil di sudut dermaga hijau ini. Dari latar belakang yang berbeda pula, aku mencoba untuk mampu mengenalimu sebisaku.
Kamu. Allah memilihmu untuk menyadarkanku arti kehidupan sesungguhnya, mengajariku dengan tersirat bahwa yang terlihat buruk itu belum tentu buruk, dan yang terlihat baik itu belum tentu baik, semua tergantung bagaimana kita hidup di atas bumi-Nya. Satu hal yang tak pernah terlupa adalah ketika hembusan angin dan kesejukkan di kota hujan itu menjadi saksi atas kebahagiaan kita, canda tawa, berbagi kisah dan hikmah, di lingkaran kecil ini.
Selalu ada kerinduan di setiap titian langkah pada lorong dermaga ini untuk kembali bersua denganmu, karena kamu adalah salah satu muara kebahagiaan itu. Tak jarang kita menertawai hal-hal kecil, dan tak jarang pula kita saling menguatkan satu sama lain. Semua memori itu tersimpan demikan indah di kotak istimewaku dan kamu adalah yang terbanyak mengisi kotak itu.
Ribuan langkah telah kita sambangi, ternyata Allah memberikanku kamu-kamu yang lain. Tentu kebahagian itu bertambah pula, dan tali cinta kita semakin panjang. Coretan kisah kita pun semakin beragam. Kamu, sangat mewarnai hari-hariku di dermaga hijau ini.
Berharap semua ini tak menjadi akhir dari perjalanan kita. Jatuh bangun kita lewati bersama. Melawati segala rintangan dan duka yang berbeda bentuk dan rupa. Tapi Allah tahu tali kita akan semakin kuat jika kita terus mempertahankan cinta-Nya dan kamu ingat? Kita adalah macan di dermaga ini. Jangan pernah mundur dan meninggalkan coretan yang telah kita goreskan, kawan. Karena kamu adalah salah satu di balik tabir kebahagiaan itu.
Terimakasih untuk selalu membersamai. Terimakasih untuk tetap menjadi laut, gunung, matahari, dan bintang di dermaga hijau ini. Jika suatu saat pelayaran ini berlanjut, semoga kamu tetap menjadi bagian terindah di kotak istimewaku.
Ya, bercerita Tentang Kamu membuat malam ini semakin sendu.
Iya kamu, saudariku di lingkaran kebaikan. :)
Ibarat gunung, kamu itu menyejukkan.
Ibarat matahari, kamu itu menghangatkan.
Ibarat bintang, kamu itu meramaikan dikala suatu ketika hidup terasa gelap.
Ketika pada fase itu aku hampir saja berhenti dari pelayaran, Allah senantiasa menguatkan dan menuntunku hingga akhirnya aku sampai di dermaga hijau ini. Walau sebenarnya dermaga ini bukanlah target awalku, tapi seiring berjalannya waktu, perlahan Allah membuka tabir kebahagiaan itu, dan membuka ruang pikiranku untuk berpikir lebih melangit.
Iya, kamu, adalah salah satu dibalik tabir kebahagiaan itu.
Hadirmu di dermaga ini pun adalah takdir dari serangkaian perjalanan panjang mu, bukan?
Allah telah menuntun kita dengan cara yang berbeda-beda tapi pada akhirnya memang kita di takdir kan untuk saling mengenal, di sebuah lingkaran kecil di sudut dermaga hijau ini. Dari latar belakang yang berbeda pula, aku mencoba untuk mampu mengenalimu sebisaku.
Kamu. Allah memilihmu untuk menyadarkanku arti kehidupan sesungguhnya, mengajariku dengan tersirat bahwa yang terlihat buruk itu belum tentu buruk, dan yang terlihat baik itu belum tentu baik, semua tergantung bagaimana kita hidup di atas bumi-Nya. Satu hal yang tak pernah terlupa adalah ketika hembusan angin dan kesejukkan di kota hujan itu menjadi saksi atas kebahagiaan kita, canda tawa, berbagi kisah dan hikmah, di lingkaran kecil ini.
Selalu ada kerinduan di setiap titian langkah pada lorong dermaga ini untuk kembali bersua denganmu, karena kamu adalah salah satu muara kebahagiaan itu. Tak jarang kita menertawai hal-hal kecil, dan tak jarang pula kita saling menguatkan satu sama lain. Semua memori itu tersimpan demikan indah di kotak istimewaku dan kamu adalah yang terbanyak mengisi kotak itu.
Ribuan langkah telah kita sambangi, ternyata Allah memberikanku kamu-kamu yang lain. Tentu kebahagian itu bertambah pula, dan tali cinta kita semakin panjang. Coretan kisah kita pun semakin beragam. Kamu, sangat mewarnai hari-hariku di dermaga hijau ini.
Berharap semua ini tak menjadi akhir dari perjalanan kita. Jatuh bangun kita lewati bersama. Melawati segala rintangan dan duka yang berbeda bentuk dan rupa. Tapi Allah tahu tali kita akan semakin kuat jika kita terus mempertahankan cinta-Nya dan kamu ingat? Kita adalah macan di dermaga ini. Jangan pernah mundur dan meninggalkan coretan yang telah kita goreskan, kawan. Karena kamu adalah salah satu di balik tabir kebahagiaan itu.
Terimakasih untuk selalu membersamai. Terimakasih untuk tetap menjadi laut, gunung, matahari, dan bintang di dermaga hijau ini. Jika suatu saat pelayaran ini berlanjut, semoga kamu tetap menjadi bagian terindah di kotak istimewaku.
Ya, bercerita Tentang Kamu membuat malam ini semakin sendu.
Iya kamu, saudariku di lingkaran kebaikan. :)
Minggu, 15 Oktober 2017
"Reading? I don't Like It !" Sstt ! U Have To Know This !!
Assalamu'alaykum para pejuang mimpi!
Alhamdulillah Allah masih memberikan kita nikmat hidup, itu artinya kita masih punya kesempatan untuk (lagi-lagi) berubah menjadi lebih baik. :) Tidak ada yang terlambat selagi nyawa belum sampai ke kerongkongan, tidak ada yang terhina jika kita selalu "kembali" kepada-Nya. Syaithon itu licik sekali tipu dayanya untuk membuat manusia merasa paling hina sedunia, padahal Allah maha luas ampunan-Nya, dan Dia menyuruh kita untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya. :")
Tulisan saya kali ini adalah tentang wahyu Allah yang pertama, yang di sampaikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Iqra', yang artinya bacalah. Namun, saya tidak memaparkan dari segi tafsir menurut surat Al-'Alaq ayat 1-5 itu, tapi yang perlu di tekankan oleh kita semua adalah membaca merupakan salah satu perintah Allah, dan perintah Allah itu mengandung banyak pengajaran.
Saya mengamati banyak hal tentang orang yang menyebut dirinya suka membaca, dan yang tidak suka membaca, termasuk diri saya adalah orang yang berada di tengah-tengah. Mengapa? Karena saya membaca tergantung mood. Oke, skip. Mereka yang suka membaca pada dasarnya memang karena suka, bahkan di jadikan hobi, dan akan haus jika seminggu saja tidak menghabiskan beberapa buku. Karena mereka, termasuk saya, yakin sekali bahwa dengan membaca kita akan dapat ilmu yang banyak dari berbagai sudut pandang, pengalaman, kisah, dan gaya kepenulisan banyak orang. Sedangkan mereka yang menyebut dirinya tidak suka membaca, menurut saya, mereka hanya belum merasakan manisnya buku. Mereka hanya belum menemukan waktu-waktu terbaik untuk membaca. Mereka hanya belum memaknai arti sebuah "kata-kata" yang dengan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat, dan paragraf yang runtut, hingga akhirnya menjadi sebuah buku yang menyimpan banyak pesan yang sarat akan ilmu.
Saya mau mulai membaca, tapi buku apa ya selain buku pelajaran sekolah atau kuliah?
Banyak nih dari kita yang kebingungan mau baca buku apa, padahal di toko buku ada ribuan buku, atau kalau gak mau beli, baca di perpustakaan di sekolahnya atau di kampusnya, atau kalau bener-bener males jalan, baca aja e-book, kalau gak punya juga, minjem temen. Aduh, belom baca aja udah mempersulit diri. Beli buku apa aja gaes! Saya saranin sih, kalau kalian new be, beli buku dari penulis yang udah banyak ngeluarin buku best seller. Kalian bisa search aja di internet, "penulis buku-buku best seller". Nah :)
Boleh gak sih baca buku bergenre Romance?
Beuh, kalau saya pribadi, gak ada salahnya kita baca buku bergenre romance kek, apa kek, yang jelas niatnya dulu dari awal dibenerin. Saya membaca bukan ingin mem-baper-kan diri, tapi lebih ke memaknai gaya kepenulisan seseorang, bahasanya, pilihan katanya, dll. Karena, oke, sejujurnya saya ingin menjadi penulis, fiksi maupun non-fiksi. Jadi, saya bukan hanya menjadi penikmat tapi juga pemerhati. :)
Apa sih serunya baca buku? Gak ada waktu!
Eits, bukannya gak ada waktu, tapi kitanya aja yang males. Dengan membaca, you can explore your imagination! Orang-orang yang love to read itu wawasannya luas, ilmunya banyak, dan gak akan kehabisan kosa kata kalau lagi nulis. Waktu kita sama-sama 24 jam. Kita bisa baca buku dimana aja, kapan aja. Kurang-kurangin megang gadget, saya sih gak mau disebut generasi nunduk! Wkwk tapi emang bener sih, di zaman sekarang tanpa gadget, kita akan sulit berkomunikasi. Tapi, buku bisa mengalahkan segalanya gaes, penasaran banget kalau gak cepet-cepet dikelarin :)
Apa bedanya keseruan baca buku Fiksi dan Non-Fiksi? Dan kita harus lebih banyak baca yang mana?
Hmm, menurut saya, bedanya buku fiksi dan non-fiksi hanya di metode penulisannya saja. Kalau fiksi, contohnya cerpen, novel, adalah buku-buku imajiner, tapi kaya akan pesan moral (btw lagi-lagi tergantung penulisnya siapa), dan tidak harus menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan. Serunya adalah kita bisa berimajinasi dengan sudut pandang yang ada, latar, dan bahkan kita bisa terhanyut dalam ceritanya (re: nangis, marah, kesel, terharu, dsb). Kalau non-fiksi, serunya sih gak ada wkwk engga deng, becanda. Non-fiksi itu buku-buku ilmiah yang sesuai fakta atau realita. Cocok bagi kalian yang "sangat akademisi" dan ingin mengejar skripsi atau tugas akhir XD. Harus lebih banyak baca yang mana? Ya, tergantung kebutuhan sih, kalau saya, setiap hari selalu baca non-fiksi (re: buku kuliah) karena memang itu yang menjadi kebutuhan saya saat ini sebagai mahasiswa, tapi karena saya juga menyukai sastra, maka membaca novel adalah sebuah keharusan. :)
Bukankah kita sebagai muslim harus membaca buku-buku yang menambah ilmu Islam kita?
Yup, bener banget. Nah, ini penting. Saya juga sedang berusaha membaca buku-buku keislaman, dan ini yang menjadi fokusan saya sekarang. Sebisa mungkin kita meminimalisir buku-buku yang akan membuat kita lalai, atau lebih saya sarankan, kita sebagai muslim membaca buku-buku dari penulis yang berafiliasi pada islam dan tentang kehidupan, entah itu fiksi maupun non-fiksi. Gampang kok cara tahunya, di setiap toko buku pasti ada bagian-bagiannya, atau minta rekomendasi dari temen2 soleh/ah kita. :)
Terakhir, adakah tips agar kita membaca juga bernilai ibadah walaupun itu fiksi sekalipun?
Bismillah, awali bacaan kita dengan bismillah. Iqra' bismi robbikalladzi kholaq. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang maha menciptakan. Ingat ya bro, Al-Quran tetap menjadi bacaan utama kita. Baca buku-buku lainnya itu nomor sekian. Tapi, intinya, semua berawal dari niat, baik buruknya perbuatan seseorang itu bergantung pada niat. Niatkan kita membaca buku karena Allah, maka itulah pentingnya kita memilah-milah buku apa yang bisa meningkatkan kedekatan kita dengan Allah. Niatkan kita ingin mencari ilmu, yang kemudian bisa kita aplikasikan untuk membela agama-Nya, dan menegakkan syariat-Nya. :)
Wallahu a'lam bisshowab. Semoga Allah senantiasa memberkahi aktivitas kita. Aamiin :)
Semangat mengejar mimpi!
Alhamdulillah Allah masih memberikan kita nikmat hidup, itu artinya kita masih punya kesempatan untuk (lagi-lagi) berubah menjadi lebih baik. :) Tidak ada yang terlambat selagi nyawa belum sampai ke kerongkongan, tidak ada yang terhina jika kita selalu "kembali" kepada-Nya. Syaithon itu licik sekali tipu dayanya untuk membuat manusia merasa paling hina sedunia, padahal Allah maha luas ampunan-Nya, dan Dia menyuruh kita untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya. :")
Tulisan saya kali ini adalah tentang wahyu Allah yang pertama, yang di sampaikan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Iqra', yang artinya bacalah. Namun, saya tidak memaparkan dari segi tafsir menurut surat Al-'Alaq ayat 1-5 itu, tapi yang perlu di tekankan oleh kita semua adalah membaca merupakan salah satu perintah Allah, dan perintah Allah itu mengandung banyak pengajaran.
Saya mengamati banyak hal tentang orang yang menyebut dirinya suka membaca, dan yang tidak suka membaca, termasuk diri saya adalah orang yang berada di tengah-tengah. Mengapa? Karena saya membaca tergantung mood. Oke, skip. Mereka yang suka membaca pada dasarnya memang karena suka, bahkan di jadikan hobi, dan akan haus jika seminggu saja tidak menghabiskan beberapa buku. Karena mereka, termasuk saya, yakin sekali bahwa dengan membaca kita akan dapat ilmu yang banyak dari berbagai sudut pandang, pengalaman, kisah, dan gaya kepenulisan banyak orang. Sedangkan mereka yang menyebut dirinya tidak suka membaca, menurut saya, mereka hanya belum merasakan manisnya buku. Mereka hanya belum menemukan waktu-waktu terbaik untuk membaca. Mereka hanya belum memaknai arti sebuah "kata-kata" yang dengan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat, dan paragraf yang runtut, hingga akhirnya menjadi sebuah buku yang menyimpan banyak pesan yang sarat akan ilmu.
Saya mau mulai membaca, tapi buku apa ya selain buku pelajaran sekolah atau kuliah?
Banyak nih dari kita yang kebingungan mau baca buku apa, padahal di toko buku ada ribuan buku, atau kalau gak mau beli, baca di perpustakaan di sekolahnya atau di kampusnya, atau kalau bener-bener males jalan, baca aja e-book, kalau gak punya juga, minjem temen. Aduh, belom baca aja udah mempersulit diri. Beli buku apa aja gaes! Saya saranin sih, kalau kalian new be, beli buku dari penulis yang udah banyak ngeluarin buku best seller. Kalian bisa search aja di internet, "penulis buku-buku best seller". Nah :)
Boleh gak sih baca buku bergenre Romance?
Beuh, kalau saya pribadi, gak ada salahnya kita baca buku bergenre romance kek, apa kek, yang jelas niatnya dulu dari awal dibenerin. Saya membaca bukan ingin mem-baper-kan diri, tapi lebih ke memaknai gaya kepenulisan seseorang, bahasanya, pilihan katanya, dll. Karena, oke, sejujurnya saya ingin menjadi penulis, fiksi maupun non-fiksi. Jadi, saya bukan hanya menjadi penikmat tapi juga pemerhati. :)
Apa sih serunya baca buku? Gak ada waktu!
Eits, bukannya gak ada waktu, tapi kitanya aja yang males. Dengan membaca, you can explore your imagination! Orang-orang yang love to read itu wawasannya luas, ilmunya banyak, dan gak akan kehabisan kosa kata kalau lagi nulis. Waktu kita sama-sama 24 jam. Kita bisa baca buku dimana aja, kapan aja. Kurang-kurangin megang gadget, saya sih gak mau disebut generasi nunduk! Wkwk tapi emang bener sih, di zaman sekarang tanpa gadget, kita akan sulit berkomunikasi. Tapi, buku bisa mengalahkan segalanya gaes, penasaran banget kalau gak cepet-cepet dikelarin :)
Apa bedanya keseruan baca buku Fiksi dan Non-Fiksi? Dan kita harus lebih banyak baca yang mana?
Hmm, menurut saya, bedanya buku fiksi dan non-fiksi hanya di metode penulisannya saja. Kalau fiksi, contohnya cerpen, novel, adalah buku-buku imajiner, tapi kaya akan pesan moral (btw lagi-lagi tergantung penulisnya siapa), dan tidak harus menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan. Serunya adalah kita bisa berimajinasi dengan sudut pandang yang ada, latar, dan bahkan kita bisa terhanyut dalam ceritanya (re: nangis, marah, kesel, terharu, dsb). Kalau non-fiksi, serunya sih gak ada wkwk engga deng, becanda. Non-fiksi itu buku-buku ilmiah yang sesuai fakta atau realita. Cocok bagi kalian yang "sangat akademisi" dan ingin mengejar skripsi atau tugas akhir XD. Harus lebih banyak baca yang mana? Ya, tergantung kebutuhan sih, kalau saya, setiap hari selalu baca non-fiksi (re: buku kuliah) karena memang itu yang menjadi kebutuhan saya saat ini sebagai mahasiswa, tapi karena saya juga menyukai sastra, maka membaca novel adalah sebuah keharusan. :)
Bukankah kita sebagai muslim harus membaca buku-buku yang menambah ilmu Islam kita?
Yup, bener banget. Nah, ini penting. Saya juga sedang berusaha membaca buku-buku keislaman, dan ini yang menjadi fokusan saya sekarang. Sebisa mungkin kita meminimalisir buku-buku yang akan membuat kita lalai, atau lebih saya sarankan, kita sebagai muslim membaca buku-buku dari penulis yang berafiliasi pada islam dan tentang kehidupan, entah itu fiksi maupun non-fiksi. Gampang kok cara tahunya, di setiap toko buku pasti ada bagian-bagiannya, atau minta rekomendasi dari temen2 soleh/ah kita. :)
Terakhir, adakah tips agar kita membaca juga bernilai ibadah walaupun itu fiksi sekalipun?
Bismillah, awali bacaan kita dengan bismillah. Iqra' bismi robbikalladzi kholaq. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang maha menciptakan. Ingat ya bro, Al-Quran tetap menjadi bacaan utama kita. Baca buku-buku lainnya itu nomor sekian. Tapi, intinya, semua berawal dari niat, baik buruknya perbuatan seseorang itu bergantung pada niat. Niatkan kita membaca buku karena Allah, maka itulah pentingnya kita memilah-milah buku apa yang bisa meningkatkan kedekatan kita dengan Allah. Niatkan kita ingin mencari ilmu, yang kemudian bisa kita aplikasikan untuk membela agama-Nya, dan menegakkan syariat-Nya. :)
Wallahu a'lam bisshowab. Semoga Allah senantiasa memberkahi aktivitas kita. Aamiin :)
Semangat mengejar mimpi!
Minggu, 03 September 2017
Tawakal dan Usaha, 2 hal yang terpisahkan?
Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamu'alaykum ikhwah fillah.. Semoga senantiasa dalam penjagaan Allah..
Kita adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Kita punya akal, hati, dan nafsu. Dengan akal kita mampu berpikir, dengan hati kita mampu memilah mana yang haq dan mana yang bathil, dan dengan nafsu kita mampu berusaha dengan kesungguhan jika nafsu itu bernilai postif.
Kita hidup di dunia adalah untuk berjuang. Memperjuangkan mimpi-mimpi yang tergores indah di cakrawala semesta bahkan sampai langit ke tujuh. Tapi, seringkali kita lupa, bahwa kita berjuang mengikuti alur fatamorgananya dunia. Usaha mati-matian tanpa ingat bersandar pada siapa. Jatuh bangun tanpa ingat keringat untuk siapa. Dan berlari tanpa tahu mengarah pada siapa. Alih-alih ingin membahagiakan orang tua, tapi Allah sering ditinggal jua.
Jelas kita seringkali kecewa di tengah-tengah perjuangan. Karena kita bersandar pada "usaha" kita. Bukan pada Allah Maha sebaik-baik tempat bersandar. Coba kita tengok masa lalu kita, atau saat ini yang mungkin sedang memperjuangkan sesuatu. Pernahkah kalian berpikir, "Ah, usaha saya sudah maksimal, masa iya tidak berhasil.", atau "Ah, pasti saya akan berhasil karena saya sudah mengorbankan banyak hal demi mencapai ini." Percayakah kalian secara tidak langsung kita melupakan Allah sang pemberi takdir terbaik? Jangan salah, takdir luar biasa akan datang kepada orang yang benar-benar menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Allah, walau sebesar apapun pengorbanan yang dikorbankan, sesakit apapun jatuh bangunnya, dia tetap menyerahkannya kepada Allah, itulah Tawakal.
Sejatinya tawakal adalah usaha tertinggi yang harus kita capai, yang harus senantiasa mengiringi usaha-usaha kita yang lain. Karena tawakal dan usaha adalah 2 hal yang tidak terpisahkan. Saya teringat fase luar biasa dalam hidup saya yang membuat saya benar-benar memahami makna tawakal ilallah. Sekitar 2 tahun yang lalu, ketika saya sedang berjuang memperebutkan bangku PTN. Saya sudah berusaha mengejar nilai raport agar bisa lolos lewat SNMPTN, tapi nyatanya gagal. Kemudian saya berusaha lebih keras agar lolos lewat SBMPTN sekaligus Mandiri UGM, mengikuti bimbel intensif, melahap banyak soal-soal, mengkoleksi banyak buku, dll. Disitu saya memang berdoa agar Allah meloloskan saya karena toh usaha gak kurang-kurang. Dan pada akhirnya, saya pun gagal lagi di SBMPTN. Sedih bukan kepalang. Mata bengap dan ditambah mandiri UGM pun tidak lolos juga. Rasa-rasanya ingin lenyap dari muka bumi ini. Sampai segitunya saya sedih.
Seperti kehilangan jati diri, saya mulai menata kembali niat saya. Membuka lembaran-lembaran Al-Quran, saya dapati ayat yang berbunyi,
"Belum tentu sesuatu yang menurutmu baik adalah baik bagimu, dan yang menurutmu buruk, buruk bagimu. Allah maha mengetahui sedangkan kamu tidak." (QS Al-Baqarah)
Innalillahi.. mungkin selama ini saya salah usaha. Bukan salah mungkin, tapi kurang satu hal yang amat fatal. Yaitu, tidak tawakal dengan semurni-murninya tawakal kepada Allah. Ya, saya rajut kembali pundi-pundi kebaikan yang hilang. Saya ikut tes lagi, yaitu Mandiri UNJ. Saya pasrah se-pasrah pasrahnya pasrah. Sampai-sampai saya tidak lagi berdoa agar di loloskan di UNJ. Saya hanya berdoa, "Ya Allah, dimanapun saya, akan kemana saya, tunjukkanlah saya selalu jalan-Mu yang lurus, yang senantiasa Engkau ridhoi." (titik)
Alhamdulillah, Allah memang Maha hebat, yang bisa menyadarkan hamba-Nya, mengajari hamba-Nya dengan sangat detail, menuntun hamba-Nya dengan lembut, sehingga jadilah takdir luar biasa itu sampai kepada saya, menjadi mahasiswa UNJ. Mungkin sebagian orang menganggap itu adalah hal sepele, nothing special because u dont feel it, but for me it was so amazing journey with my God, feel so grateful and i dont know what to say. Sampai saat ini, saya tidak akan pernah melupakan fase itu, berusaha untuk tidak akan mengecewakan Dia yang telah memberi segala yang terbaik kepada saya.
Tawakal adalah kunci keberhasilan. Dan saya mengimani firman Allah ini,
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya.” (QS ath-Thalaaq:2-3).
Assalamu'alaykum ikhwah fillah.. Semoga senantiasa dalam penjagaan Allah..
Kita adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Kita punya akal, hati, dan nafsu. Dengan akal kita mampu berpikir, dengan hati kita mampu memilah mana yang haq dan mana yang bathil, dan dengan nafsu kita mampu berusaha dengan kesungguhan jika nafsu itu bernilai postif.
Kita hidup di dunia adalah untuk berjuang. Memperjuangkan mimpi-mimpi yang tergores indah di cakrawala semesta bahkan sampai langit ke tujuh. Tapi, seringkali kita lupa, bahwa kita berjuang mengikuti alur fatamorgananya dunia. Usaha mati-matian tanpa ingat bersandar pada siapa. Jatuh bangun tanpa ingat keringat untuk siapa. Dan berlari tanpa tahu mengarah pada siapa. Alih-alih ingin membahagiakan orang tua, tapi Allah sering ditinggal jua.
Jelas kita seringkali kecewa di tengah-tengah perjuangan. Karena kita bersandar pada "usaha" kita. Bukan pada Allah Maha sebaik-baik tempat bersandar. Coba kita tengok masa lalu kita, atau saat ini yang mungkin sedang memperjuangkan sesuatu. Pernahkah kalian berpikir, "Ah, usaha saya sudah maksimal, masa iya tidak berhasil.", atau "Ah, pasti saya akan berhasil karena saya sudah mengorbankan banyak hal demi mencapai ini." Percayakah kalian secara tidak langsung kita melupakan Allah sang pemberi takdir terbaik? Jangan salah, takdir luar biasa akan datang kepada orang yang benar-benar menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Allah, walau sebesar apapun pengorbanan yang dikorbankan, sesakit apapun jatuh bangunnya, dia tetap menyerahkannya kepada Allah, itulah Tawakal.
Sejatinya tawakal adalah usaha tertinggi yang harus kita capai, yang harus senantiasa mengiringi usaha-usaha kita yang lain. Karena tawakal dan usaha adalah 2 hal yang tidak terpisahkan. Saya teringat fase luar biasa dalam hidup saya yang membuat saya benar-benar memahami makna tawakal ilallah. Sekitar 2 tahun yang lalu, ketika saya sedang berjuang memperebutkan bangku PTN. Saya sudah berusaha mengejar nilai raport agar bisa lolos lewat SNMPTN, tapi nyatanya gagal. Kemudian saya berusaha lebih keras agar lolos lewat SBMPTN sekaligus Mandiri UGM, mengikuti bimbel intensif, melahap banyak soal-soal, mengkoleksi banyak buku, dll. Disitu saya memang berdoa agar Allah meloloskan saya karena toh usaha gak kurang-kurang. Dan pada akhirnya, saya pun gagal lagi di SBMPTN. Sedih bukan kepalang. Mata bengap dan ditambah mandiri UGM pun tidak lolos juga. Rasa-rasanya ingin lenyap dari muka bumi ini. Sampai segitunya saya sedih.
Seperti kehilangan jati diri, saya mulai menata kembali niat saya. Membuka lembaran-lembaran Al-Quran, saya dapati ayat yang berbunyi,
"Belum tentu sesuatu yang menurutmu baik adalah baik bagimu, dan yang menurutmu buruk, buruk bagimu. Allah maha mengetahui sedangkan kamu tidak." (QS Al-Baqarah)
Innalillahi.. mungkin selama ini saya salah usaha. Bukan salah mungkin, tapi kurang satu hal yang amat fatal. Yaitu, tidak tawakal dengan semurni-murninya tawakal kepada Allah. Ya, saya rajut kembali pundi-pundi kebaikan yang hilang. Saya ikut tes lagi, yaitu Mandiri UNJ. Saya pasrah se-pasrah pasrahnya pasrah. Sampai-sampai saya tidak lagi berdoa agar di loloskan di UNJ. Saya hanya berdoa, "Ya Allah, dimanapun saya, akan kemana saya, tunjukkanlah saya selalu jalan-Mu yang lurus, yang senantiasa Engkau ridhoi." (titik)
Alhamdulillah, Allah memang Maha hebat, yang bisa menyadarkan hamba-Nya, mengajari hamba-Nya dengan sangat detail, menuntun hamba-Nya dengan lembut, sehingga jadilah takdir luar biasa itu sampai kepada saya, menjadi mahasiswa UNJ. Mungkin sebagian orang menganggap itu adalah hal sepele, nothing special because u dont feel it, but for me it was so amazing journey with my God, feel so grateful and i dont know what to say. Sampai saat ini, saya tidak akan pernah melupakan fase itu, berusaha untuk tidak akan mengecewakan Dia yang telah memberi segala yang terbaik kepada saya.
Tawakal adalah kunci keberhasilan. Dan saya mengimani firman Allah ini,
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya.” (QS ath-Thalaaq:2-3).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal pada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, maka sungguh Dia akan melimpahkan rezki kepada kalian, sebagaimana Dia melimpahkan rezki kepada burung yang pergi (mencari makan) di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang." (HR Ahmad)
So, jangan lupa untuk senantiasa bertawakal dalam kondisi apapun, bersandar pada Allah, bukan pada kualitas dan kuantitas usaha kita. :) Dalem ya maknanya. SEMANGAT MENGEJAR MIMPI YG HQQ!!
Rabu, 21 Juni 2017
Kemenangan yang Hqq
Ramadhan adalah sebuah momentum evaluasi kehidupan, berbenah diri, dan hal-hal apa yang seharusnya ditingkatkan dari kehidupan kita sebelumnya atau dari Ramadhan sebelumnya. Bukan melihat target-an orang lain, bukan melihat bagaimana amalan-amalan orang lain, tapi kita berkaca pada diri kita sendiri, "apa yang harus gue tingkatin?" karena toh hidup kita dengan hidup orang lain itu beda. Evaluasinya beda. Tapi, tujuannya sama-sama satu, yaitu meraih kemenangan.
Menurut saya, hakikat kemenangan pada Ramadhan itu adalah seberapa dekat hati kita kepada Allah daripada sebelumnya, seberapa banyak waktu kita untuk Allah daripada sebelumnya, seberapa jauh hati kita pada dunia daripada sebelumnya, seberapa kuat kita menahan hawa nafsu untuk berbuat dosa daripada sebelumnya. Banyak hal yang menjadi faktor kemanangan itu sendiri, tetapi semua hal itu adalah satu kesatuan yang bermakna pada surat At-Taubah ayat 20;
"Orang-orang yang beriman, berhijrah, serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya disisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (QS: At-Taubah: 20)
Iman, hijrah, jihad dengan harta, benda, dan diri sendiri. Komplit. Sekarang saatnya kita tengok diri kita. Bagaimana Iman kita? Kepada Allah, Rasul-Nya, malaikat-Nya, kitab-Nya, dan Qada-qadar-Nya? Allahu.. apakah Ramadhan ini kita sering mengeluh dengan ketetapan-Nya? apakah kita benar-benar memaknai Al-Quran dengan berkali-kalinya khatam-an kita? apakah kita benar-benar menjalankan sunnah Rasulullah? Lagi-lagi nampar bolak-balik. Apakah kita benar-benar berhijrah dari segala kemunkaran? Apakah kita benar-benar totalitas dalam sedekah? Apakah kita benar-benar mengorbankan diri kita untuk agenda-agenda kebaikan karena Allah daripada hal-hal yang sejatinya lebih kita cintai, yang sejatinya tidak membuat kita lelah. Allahummaghfirlanaa..
Kita yang tahu persis bagaimana diri kita. Bagaimana hubungan kita dengan Allah. Tidak usah memikirkan orang lain. Manusia, alam semesta, semua yang diciptakan-Nya, kita jadikan pelajaran, lagi-lagi pelajaran untuk lebih dekat dengan Allah. Banyak bertaubat. Banyak istighfar. Banyak merenungi kehidupan (muhasabah).
Walau kita belum bisa mendapatkan kemenangan yang hqq, semoga kita selalu bisa merasakan manisnya iman, semoga taufiq-Nya senantiasa mengiringi langkah kita. Semoga Allah ampuni segala dosa-dosa kita. Allah itu maha baik, jangan malu untuk meminta, jangan malu untuk memohon ampun.
Allah rindu keseriusan kita berjuang. Teruslah mengejar kemenangan; dimanapun, kapanpun, hingga akhir waktu.
Bekasi, 21 Juni 2017
Kamis, 27 April 2017
Be Brave! Be Positive!
Terkadang ketakutan lebih besar daripada keberanian. Kita seringkali memilih jalan yang "aman" dan biasa-biasa aja daripada jalan yang penuh tantangan. Kita seringkali melakukan hal yang sudah biasa dilakukan orang daripada melakukan sesuatu yang baru. Mengapa? Karena rasa takut dan ketidakpercayaan diri.
Rasa takut dan gk pede itu yang membuat kita stuck disini-sini aja-mengikuti alur yang terbentuk dengan sendirinya seolah-olah hal itu adalah aturan yang harus dilalui. Kenapa sih kita harus begini lalu begitu kemudian begono? Kenapa kita gak begitu terus begini lalu begindang? .
Memang tidak ada salahnya kita memilih jalan itu atau ini, melakukan itu atau ini, terkadang kehidupan memaksa kita untuk tidak "neko-neko" (gk macem2) karena beberapa alasan. Tapi kita tidak akan pernah tau bagaimana rasanya ke suatu tempat tujuan "lewatin kali cuma pake tali" padahal mungkin kalau kita lewat situ banyak sesuatu yang indah like "berlian intan permata.." .
Intinya, suatu pembelajaran yang luar biasa akan di dapat dari perjalanan yang luar biasa pula. Sebuah intan permata tidak akan kita dapatkan jika kita hanya tidur-makan-tidur, atau kuliah-pulang-kuliah-pulang, atau sekolah-main-pacaran-sekolah. Tidak. Kita harus memaksa diri kita untuk melakukan sesuatu yang baru. Berani dengan segala resiko dan berjanji untuk tetap memberikan yang terbaik untuk setiap hal dlm kehidupan ini. .
Hey, kalian yang sudah started for something new! :) Jangan berhenti dan tetap melangkah maju-jangan mundur! Insya Allah akan ada hal-hal baik yang menakjubkan di setiap detiknya.
Keep upgrading yourself!
Rabu, 08 Maret 2017
Pengajaran Hidup
Bismillah..
Hidup adalah takdir yang mau tidak mau harus dihadapi. Di dunia ini terdapat banyak sekali warna kehidupan pada setiap manusia. Warna tersebut dapat kita lihat dari berbagai macam suku, budaya, agama, ras, dan lain-lain. Sehingga setiap orang punya warna tersendiri dalam hidupnya, dan itu yang menjadikan dunia ini terasa begitu banyak pengajaran kehidupan.
Dunia yang ada di muka bumi ini adalah sebuah alam kehidupan bagi setiap makhluk ciptaan-Nya, termasuk manusia. Baik dan buruknya kehidupan manusia di dunia ini tergantung bagaimana Ia menjalaninya, bagaimana Ia memikirkannya. Namun, penilaian baik dan buruk sebuah kehidupan perlu kita cari tahu makna sebenarnya dari sumber yang akurat, bukan pada manusia itu sendiri, melainkan pada yang Maha menciptakan kehidupan tersebut.
Allah, adalah dzat yang maha menciptakan kehidupan tersebut. Dia telah memberikan kepada kita sebuah pedoman hidup, yaitu Al-Quran. Makna baik dan buruknya sebuah kehidupan ada di dalamnya. Jika kita menjadikan Al-Quran dan Hadits sebagai rujukan utama dalam berkehidupan, maka Insya Allah kehidupan kita bernilai baik. Entah orang lain berkata apa, atau memandang sebelah mata, yang jelas kita sudah mengikuti yang seharusnya diikuti dan diteladani.
Selama menjalani kehidupan perkuliahan selama 2 tahun ini, banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapat, hikmah-Nya sedikit demi sedikit bisa saya rasakan, tidak terlihat oleh mata kepala namun begitu indah dilihat oleh mata hati. Benar sekali, Allah selalu punya hal yang menakjubkan untuk kehidupan kita walau di awal kita sangat kecewa dengan ketetapan-Nya, namun kini kita merasakan nikmat yang lebih dari apa yang kita minta dahulu. Terkadang, ketika kita sudah pasrah dengan sesuatu dan tak memikirkannya lagi, tiba-tiba Allah memberi sesuatu itu. Alhamdulillah di semester 4 ini saya mendapat beasiswa dari dikti dimana jumlahnya 4x lipat dari uang saku saya selama sebulan. Astaghfirullah, saya memandang itu adalah sebuah ujian bagi diri saya, sebagai amanah yang harus dijaga. Allahu.. ampuni hamba yang masih seringkali lalai.
Pengajaran hidup bisa datang dari mana saja, bahkan dari kehidupan orang lain. Saya tidak melihat serentetan pencapaian luar biasa mereka, melainkan nilai dari proses untuk mencapai itu, keikhlasan dan kesabarannya pun menjadi nilai utama. Saya pun tidak melihat seberapa kaya, seberapa pintar, seberapa hebat talenta orang lain, melainkan bagaimana Ia berkehidupan, bagaimana hubungannya dengan Allah, bagaimana ibadahnya, bagaimana amal-amalnya untuk Allah. Di balik sebagian besar orang hebat di dunia ini, ternyata ada amal-amal yang ikhlas yang selalu mereka berikan untuk Allah. Dan merekalah yang selalu membuat saya cemburu. Allahu..
Pada akhirnya, kehidupan di dunia ini akan ada masanya untuk berakhir, segala pencapaian dunia tidak akan dibawa mati, melainkan amal-amal kita yang menentukan nasib baik atau buruk. Wallahi, kehidupan akhirat itu ada di depan mata. Nyata. Sedangkan dunia ini hanyalah tempat persinggahan, maka bersinggahlah dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Pikirkan dan jalankan saja apa-apa perintah-Nya, dan berusaha untuk selalu kembali ke jalan yang benar ketika kita sedang melenceng dari jalur-Nya. Saudaraku seiman, nasihatilah diri ini agar selalu istiqomah, gandeng tangan ini agar selalu berada di jalan-Nya, dan ajari lisan ini agar tak lelah mendakwahkan agama-Nya.
Barakallahu fiikum. Semoga Allah senantiasa menjaga hati, pikiran, dan lisan kita dari segala kemunkaran.
Tangerang, 9/3/17
Copyright ©
Moonlight
| Powered by
Blogger
Design by
Flythemes
| Blogger Theme by
NewBloggerThemes.com

